Tuesday, 15 November 2016

Paris Van Java


Paris Van Java
          Akhirnya kami sampai di paris, tempat yang kami impi-impikan dari dulu. Awalnya aku merasa ini adalah sebuah mimpi di siang bolong, karena untuk menginjakkan kaki di kota paris adalah hal yang berat aku capai. Bagaimana tidak? Aku harus menyediakan uang yang sangat banyak agar dapat ke kota Paris. Tetapi, semua ini sudah terjawab, aku dan ketiga sahabatku sudah berada di kota Paris tepatnya di menara Eiffel. Ketiga sahabat akulah yang membantuku agar bisa ke kota Paris nan romantis ini.
“Paris!!! Yey kita sampai di Paris.” Teriak Gladis, salah satu sahabatku yang memiliki sifat telmi atau telat mikir. Dengan begitu, dia tampak lucu dan menarik. Tujuannya ke kota Paris adalah ingin melihat koleksi-koleksi fhasion yang ada di kota ini. Tentu saja Gladis adalah tipikal wanita yang sangat feminism. Sedangkan  Vera adalah sahabatku yang paling tomboy, hobinya menjahili teman. Tetapi, dia mempunyai tujuan di kota Paris adalah dia ingin menjadi potografer yang handal, dan bisa mempoto tempat- tempat yang menarik di kota Paris ini. Kalau bisa ya Ver hehehehe….
Nah, sahabat aku yang satu ini orangnya pendiam banget, namanya Lidia. Tujuannya berada dIsini adalah ingin meliput semua kejadian-kejadian yang ada di kota Paris. Waw!! Ekstrem juga ya…
Tapi tunggu, aku udah ceritaiin tentang ketiga sahabatku, beserta tujuan mereka di kota Paris, kalau aku? Apa ya tujuanku di Paris ini? Sebenarnya aku bingung mau ngapain saja di kota Paris nan indah dan romantis ini. Mataku tertuju ke menara Eiffel yang berdiri kokoh tepat dihadapanku. Paris adalah negara yang romantis, yah banyak orang yang berkata seperti itu, bahkan film-film dari Indonesia banyak yang syuting ke kota Paris ini, tujuan mereka adalah agar terciptanya kemistri romantis antar pemain yang akan beraction. Dan banyak juga yang berkata kalau sudah ada di Paris pasti akan medapatkan jodoh yang kita inginkan. Hmmmm itu benar gak ya? Tapi menurutku itu Cuma mitos saja, coba pikir pakai logika, masa iya kota yang memberikan kita jodoh? Jodoh, maut, rezeki yang menentukan Allah SWT. Terkadang manusia memang pintar mengada-ngada. “bruk!!!!” yah, itu adalah suara, yah suara!! Tanpaku sadari, aku menabrak seorang pria yang memakai seragam polisi, berparas tampan, memiliki rahang yang keras, hidung yang menjulang kedepan dan berpostur tinggi tegap. Pria itu tepat dihadapanku, jarak kami sangatlah dekat. Tetapi tidak dekat dekat banget sih hehehee….
“I-I’am sorry mister” Kataku dengan tergugup. Oh sial mengapa aku jadi gugup seperti ini? Oh ayolah jantung, tolong dikondisikan.
Yah, no problem” Sahutnya singkat dengan nada datar. Hmm kalau dilihat-lihat pria ini bukan asli penduduk kota Paris ini. Karena tampangnya bukan bule. Sepertinya pria ini orang Indonesia. mataku melihat suasana sekitar, banyak sekali pengunjung. Tetapi Gladis, Vera, dan Lidia kemana?
“Loh? Mereka kemana? Gue di tinggalin sendirian. Duh” Aku bermonolog.
“Maaf,  apakah kamu berasal dari Indonesia?” Tanya pria itu kepadaku.
“Iya saya dari Indonesia. Apakah kamu juga dari Indonesia?” Aku berbalik bertanya.
“Iya, saya berasal dari Indonesia.” Jawabnya.
Yapz!! Tebakanku benar pria ini asli orang Indonesia.
          Karena kami sama-sama berasal dari Indonesia, maka kami sempat berbincang-bincang. Pria itu mengajakku kesebuah coffe yang tidak jauh dari menara Eiffel. Katanya sih mau mengajak aku ngopi, yah selagi itu halal dan tidak dilarang oleh agama, kenapa tidak? Sayang loh rezeki kalau ditolak.
“Jadi kamu ke Paris bersama siapa? Orang tua? Pacar? Atau teman?” Tanyanya bertubi-tubi. Kami memang sudah sampai di coffe tersebut.
“Sama ketiga sahabat saya. Yah paris , memang impian kami” Jawabku.
“Terus, kalau kalian sahabat, kenapa mereka meninggalkanmu?” Pria  itu bertanya kembali.
“Mereka tidak meninggalkan saya, mungkin saja mereka tengah berkeliling menara Eiffel. Yah kota Paris adalah impian kami dari dulu, ketiga sahabat saya juga memiliki tujuan ke kota ini. Yah ada yang ingin melihat koleksi-koleksi fhasion, ada juga yang ingin mengambil keindahan kota Paris ini dengan gambar, ada juga yang ingin meliput kejadian-kejadia yang ada di kota ini. Keren kan?” Aku memceritakan kepada pria itu tentang ketiga sahabatku.
“Iya keren, tapi yang keren ketiga sahabatmu. Lalu tujuan kamu sediri apa?” Tanya pria itu dengan tampang dinginnya. Spontan saja aku terdiam mendengar pertanyaan itu, aku memang bingung menjawabnya, pertanyaan ini sangatlah susah! Lebih susah dari pada soal-soal UN (Ujian Nasional). Akupun tersenyum kikuk kepadanya.
“Tujuan saya… hmmm.. tujuan sayaaa.. Ah saya juga bingung apa tujuan saya kesini” Aku menjawab dengan kebingungan. Tampak dia menaikkan sebelah alisnya dan seketika dia tertawa, entah apa yang lucu.
“Kenapa?” Tanyaku dengan tampang polos. Duh kalau lama-lama kaya gini, yang ada aku sama seperti Gladis, yang sering menunjukkan tampang polos dang mengimutkan.
“Saya lucu melihatmu, tujuan kamu di Paris ini saja tidak tau, apa lagi tujuan hidupmu? Apa jangan-jangan kamu tidak punya tujuan hidup?” Pria itu melanjutkan tawanya.
‘Nih cowok ganteng-ganteng tapi songong dan nyebelin ya,, huh…. Nyesel deh ketemu sama ni cowok’ Batinku.
Tampangku sudah seperti bom atom yang sudah siap meledak.
“Saya hanya bercanda, jangan masukin hati tapi masukin jantung saja” Ucapnya tersenyum.
“Sama saja” Aku mencurutkan bibirku. Kini pria itu tersenyum lebar, yah senyumannya sangatlah manis, seperti gula. Kalau dilihat-lihat pria ini masih muda, mungkin seumuran denganku dan ketiga sahabatku.
“Oh iya, dari tadi kita belum kenalan, nama saya Andre Ferdiasyah” Pria itu menjalurkan tangannya kearahku.
“Saya Cesta Sarasati” Aku menerima jaluran tangan pria yang bernama Andre tersebut.
Sementara itu, Gladis, Vera, dan Lidia sudah kembali ke menara Eiffel, setelah mereka sempat berkelana.
“Loh, Cesta kemana?” Tanya Lidia.
“Bukannya tadi dia disini?” Vera bersuara menunjuk kearah  menara.
“Jangan-jangan Cesta diculik, duh gawattt!!!” Ucap Gladis histeris.
“Duh Dis, lo jangan parnoan dulu deh” Ucap Vera jengkel.
“Yaudah gue telphon Cesta dulu” Lalu Lidia menelphonku. Tuuttttttttt!!!
Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku, karena handphoneku berdering.
“Hallo Lidia” Ucapku dari sebrang telphon.
“Hallo Ces, lo dimana? Kita nyariin lo dari tadi” Lidia menanyakanku dengan khawatirnya.
“Gue ada di coffe dekat menara Eiffel.” Jawabku.
“Yaudah kita kesana ya” Ucap Lidia.
“Oke deh” Ucapku. Lalu mereka langsung tancap gas.
          Merekapun samapai di coffe tempat aku berada bersama Andre, yah polisi yang baru saja bilang kalau aku tidak punya tujuan hidup. Huh sangat menyebalkan!
“Yah Allah Ces,, lo kemana aja sih?” Tanya Vera khawatir.
“Gue gak kemana-mana kok, masih ada di Paris” Jawabku cengengesan.
“Cesta!!!!  Lo di tangkep polisi?” Tanya Gladis histeris, baru saja aku ingin memjawabnya Gladis sudah bertekuk lutut di hadapan Andre dengan tampang polosnya.
“Pak polisi, plissssss!! Jangan tangkep Cesta, dia orangnya baik, cantik, tidak sombong dan rajin menabung.” Ucap Gladis. Lucu sekali melihat sahabatku yang satu ini.
“Eh Gladis.. percuma lo mau ngomong apa, pak polisinya gak bakal ngerti. Speak English” Ucap Vera sewot melihat sikap Gladis yang kelewatan polos samapai terlihat bloon.
“Saya mengerti kok, saya juga orang Indonesia sama seperti kalian” Ucap Andre kepada semuanya.
“Bapak orang Indonesia?” Tanya Lidia.
“Iya Andre orang Indonesia” Aku yang menjawab pertanyaan Lidia.
“Kok  bisa sih ketemu sama bapak polisi ganteng ini?” Tanya Gladis kepadaku.
“Yah ceritanya gue sempat nabrak Andre dan kami kenalan deh” Jawabku enteng.
“Iya dia menabrak saya, karena dia bingung. Soalnya kalian meninggalkan dia” Kini Andre ikut anagkat suara.
“Duh Ces, sorry ya kita ninggalin lo tadi” Ucap Lidia.
“Makanya kalau hidup itu punya tujuan” Ucap Andre seperti meledek.
“Saya punya tujuan hidup kok” Aku membantah ucapannya.
Kalau begitu apa tujuan hidup kamu?” Tanya Andre.
Aku kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi juga aku dibuatnya skakmat. Huh sangat menyebalkan.!
“Tuh, kamu saja bingung. Yasudah karena kamu sudah bertemu dengan sahabatmu, saya pamit dulu.” Ucap Andre lalu beranjak pergi.
“Dadah bapak polisi ganteng.” Ucap Gladis dengan tampang polosnya.
“Tunggu!!!!!!!” Teriakku. Andre berhenti dan memutar tubuhnya kearahku.
“Ada apa lagi?” Tanyanya dengan sikap yang dingin.
“Saya akan membuktikan kepada bapak polisi Andre Ferdianyah, bahwa saya punya tujuan hidup.” Jawabku dengan suara yang meninggi.
“Oke saya terima pembuktian kamu, saya tunggu.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami semua.
“Iiiiihhhh….. ngeselin banget sih tuh cowok!” Geramku.
“Pak polisi itu gak ngeselin Ces, dia kan ganteng dan unyu-unyu gimana gitu.” Ucap Gladis membela Andre.
“Duh… Dis. Udah deh gak usah keganjenan.” Ucap Vera.
“Kenapa sih Ver? Lu sirik?” Gladis mulai sewot melihat sikap Vera.
“Dih, siapa yang sirik? Enak aja lo.” Vera mulai emosi. Memang saja, Vera dan Gladis sering berantem, tapi itu yang membuat mereka dekat. Ada-ada saja memang.
“Udah-udah kalian jangan berantem.!! Mendingan sekarang kita ketempat penginapan. Ayah sama bunda gue udah nyiapin semua.” Ucap Lidia.
“Asyikkkk…. Gue bisa tidur.” Ucap Vera kegirangan. Lalu kamipun tancap gas.
          Sesampainya di tempat penginapan, sebetulnya tempat ini adalah apartement milik kedua orang tua Lidia. Kami langsung membereskan pakaian dan barang-barang yang kami bawa. Setelah itu kami tak luput juga menunaikan ibadah sholat magrib, karena waktu sudah menunjukkan petang hari.
“Ces, lo kenapa melamun?” Tanya Lidia. Kami memang sudah selesai menunaikan ibadah sholat magrib. Kini aku berada di rooftop apartement sembari melihat indahnya kota Paris dimalam hari. Sedangkan Vera dan Gladis  sudah tertidur lelap di atas tempat tidur yang sangat empuk.
“Gapapa kok Lid” Jawabku tersenyum kepada Lidia.
“Bohong, udah deh cerita aja sama gue, kan kita sahabat.” Ucap Lidia dengan sorot mata menyelidikiku. Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan perlahan-lahan.
“Gue bingung Lid” Ucapku.
“Bingung kenapa?” Tanya Lidia.
“Gue bingung, sebenarnya tujuan gue kesini itu apa?” Jawabku.
“Setiap orang pasti punya tujuan yang akan dijalaninnya Ces.” Ucap Lidia.
“Iya gue tau itu.” Ucapku.
“Terus kenapa lo harus bingung?” Tanya Lidia.
“Tue bingung tujuan hidup gue di Paris ini apa Lid, gue bingung harus ngapai di sini” Jawabku. Suasana hening.
“Gue yakin suatu saat nanti lo pasti menemukan jawabannya.” Ucap Lidia
“Gimana caranya gue buktiin kepada Andre (pak polisi) kalau gue punya tujuan hidup, terutama tujuan hidup gue di Paris ini.” Ucapku
“Lo pasti bisa Ces, yang penting lo harus optimis, Cesta yang gue kenal gak gampang menyerah dan tetap optimis menjalani hidup ini, walau banyak rintangan dan hadangan.” Ucap Lidia. Yah Lidia memenang sahabatku yang paling mengertiku, Vera dan Gladis juga sahabat yang mengertiku, pokoknya aku sayang sama mereka bertiga.
“Makasih ya Lidia, gue seneng punya sahabat kaya lo, Vera dan Gladis” Ucapku memeluk Lidia.
“Iya sama-sama Cesta. Yaudah yuk kita istirahat” Ucap Lidia.
          Ke esok harinya, aku menghampiri Andre ke tempat pertama kali kami bertemu. ‘Siapa tau aja dia masih bertugas di sana’ Batinku.
Sesamapainya disana, atau lebih tepatnya di menera Eiffel. Mataku langsung mencari sesosok lelaki yang berserangam polisi dan memiliki paras tampan, tak luput juga memiliki senyuman yang sangat menawan. Tujuanku menemui Andre bukan untuk membuktikan apa tujuan hidupku. Tetapi, entah mengapa aku ingin bertemu dengan dirinya. Hmmmm…..
“Mau cari siapa?” Tiba-tiba suara itu,, yah suara Andre tepat di belakangku. Sontrak saja aku terkejut, dan memutar tubuhku kerah suara itu.
“Andre..!!!” Ucapku dengan ekspresi terkejut.
“iya saya memang Andre, kan kemarin sudah kenalan.” Ucap Andre dengan sikap dinginnya. Jujur saja aku menuggu senyumannya. Aku tertawa kecil, sebanarnya tawa itu adalah tawa menahan malu.
“kenapa ketawa?” Tanya Andre menaikkan sebelah alisnya.
“Emm.. gapapa kok.” Jawabku tersenyum.
“Kamu kesini mau memberikan bukti kepada saya?” Tanyanya. ‘Hah!!!  Nih cowok langsung to the point banget, duh gue mau jawab apa? Bukti? Gue belum bisa membuktikan’ Batinku.
“Hei.. kenapa bengong?” tanyanya kembali.
“Hmmm.. bukti? Buktinya belum ada.” Jawabku sambil cengengesan. Sumpah ya aku malu banget!!!.
“Lalu kalau belum ada bukti, kenapa menemui saya?” Tanya Andre.
“Ih.. GR banget kamu, saya kesini bukan untuk bertemu kamu.” Jawabku membela diriku. ‘jangan sampai Andre tau kalau gue kesini untuk bertemu dengannya’. Batinku.
“Terus kenapa kamu kesini?” Tanya Andre.
“Saya kesini mau kemenara Eiffel “ Jawabku
“Sendirian? Temen-temen kamu kemana?” Dia lagi-lagi kembali bertanya.
“Iya sendirian, emang kenapa?” Kini aku yang bertanya kepadanya.
“Yakin kamu sendirian? Nanti kamu kesasar lagi, nyusahin saja nanti, sama seperti hidup kamu yang tidak jelas dan kadang menyusahkan.” Kata-kata Andre sangatlah memohak hati ini. ‘Ih ganteng-ganteng tapi mulutnya gak pernah dijaga’ Batinku geram. Andre pergi meninggalkanku, dan menghampiri seorang lelaki tua yang tepat berada di sebrangku. Mungkin lelaki itu komandannya, tampak juga mereka berbincang-bincang. Aku terdiam membeku, tak tau mau apa lagi. Andre kembali menghampiriku.
“Ayo ikut saya!” Ajak Andre sambil menarik tanganku. Seketika jantung ini berdegub kencang. ‘ya Tuhan’
“Mau kemana? Jangan macam-macam kamu!” ancamku kepada Andre. Ke dua bola mata Andre menatapku dengan lekat. Seketika dunia berhenti berputar.
“Saya punya pikiran dan hati nurani. Jadi, tidak mungkin saya macam-macan sama kamu, apa lagi kamu memakai hijab.” Ucap Andre. Yah aku dan ketiga sahabatku memakai hijab, karena setiap muslimah di wajibkan untuk menutup auratnya. Aku tersenyum mendengarnya, tanpaku sadari Andre membalas senyumanku. Yah senyuman yang aku tunggu-tunggu sedari tadi. Senyuman yang membuat hati ini berdegup kencang.
          Andre mengajakku kesebuah taman, ternyata tugas Andre hari ini sudah selesai, maka dari itu dia dapat menemaniku.
“Ngapain kita kesini?” Tanyaku sambil melihat suasana sekitar, banyak sekali sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. Astagfirullah.
“Ih tempat apaan ini? Banyak orang yang melakukan perzinahan disini.” Ucapkku.
“Mereka yang melakukan perzinahan, bukan kamu kan?” Tanya Andre.
“Iya tapi mereka merusak pemandanga saya.” Jawabku
“Jangan dilihat.” Ucapnya dengan santai.
“Gimana jangan dilihat, mereka jelas-jelas melakukan itu dihadapan saya.” Ucapku sedikit emosi.
“Yasudah baca saja ini.” Andre memberikan sebuah buku kepadaku.
“Buku apa ini?” Tanyaku.
“Itu buku sejarah islam di paris, tempat ini cocok untuk membaca, udaranya segar, walaupun banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yan negative. Jangan samapai kita terjerumus.” Jawabnya. Akupun membaca buku itu. Dibawah pohon rindang dengan angin yang sudah sedari tadi menghembus, mengajak pohon-pohon disini untuk menari-nari.
“Kamu tau tidak apa arti tujuan hidup?” Tiba-tiba Andre bertanya seperti itu kepadaku.
“Tujuan hidup adalah sesuatu yang akan kita capai.” Jawabku.
“Coba kamu lihat kearah sana!” Tunjuk Andre ke sepasang kekasih yang tengah asyik berciuman.
“Apa hubungannya tujuan hidup sama mereka?’ Tanyaku.
“Jelas ada. Tujuan mereka adalah untuk ciuman dialam terbuka, yang dapat dilihat oleh banyak pasang mata.” Jawab Andre.
“Tapi itu tujuan hidup yang sangat bodoh.” Ucapku.
“Yah memang, coba kita Tarik kedalam islam, wanita dan lelaki yang belum menikah tidak boleh bersentuhan sebelum mereka menjadi suami dan istri.” Ucap Andre.
“Yah itu betul.” Ucapku.
“Sedangkan tujuan menikah itu adalah untuk menciptakan generasi umat islam atau generasi suatu bangsa. Bukan itu saja, tujuan menikah itu adalah ibadah.” Ucap Andre sambil menatapku. Aku menganggukan kepalaku, tandanya aku mengerti apa maksud Andre.
“Itu adalah contoh tujuan hidup dari setiap insan manusia. Jadi sekarang kenapa kamu harus bingung menentukan tujuan hidup kamu sendiri? tepatnya tujuan hidup kamu di Paris ini. toh Kamu juga kok yang menjalaninya.” Ucap Andre. Yah pria disampingku ini adalah pria yang mempunyai pemikirn dewasa. Aku tersenyum kepadanya.
“Tujuan hidup kamu apa di paris ini?” Tanyaku.
“Loh kok malah menanyakan itu kepada saya? Kamu mau nyontek ya?” Ucap Andre terkekeh. Hmmm ternyata dia bisa juga bercanda.
“Ihh.. enak aja, saya paling anti yang namanya menyontek, waktu saya SMA saja tidak pernah menyontek.” Ucapku sambil tersenyum. Andre membalas senyumanku. Sempat terjadi keheningan beberapa saat.
“Tujuan hidup saya di Paris ini, adalah untuk menyelesaikan study saya sebagai seorang polisi.” Akhirnya Andre menjawab pertanyaanku setelah terjadi keheningan diantra kami.
“Jadi kamu disini untuk belajar?” Tanyaku.
“Yah, saya kesini untuk belajar. Alhamdulillah saya mendapatkan biasiswa untuk mengikuti latihan militer disini.” Jawabnya.
“Tujuan kamu untuk jadi polisi itu apa?” Tanyaku kembali.
“Untuk memnjadi pelopor bagi masyarakat di Indonesia. dan membuat Jakarta menjadi tertib, agar tidak ada kemacetan lagi. Hehhe” Jawabnya sedikit tertawa. Yah memang saja Jakarta kota termacet didunia. Tujuan Andre bagus juga. Sangat cerdas.
“Kamu tunggu sebentar ya disini.” Ucap Andre.
“Kamu mau kemana?” Tanyaku.
“Saya ada urusan sebentar, kamu tunggu disini, sebentar kok.” Jawabnya.
“Oke deh siap pak polisi.” Ucapku tersenyum. Andrepun pergi meninggalkanku. Aku melihat ke langit yang cerah, dari pada aku melihat orang yang melakukan perzinahan, lebih baik aku melihat ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini. Aku memejamkan mataku, rasanya sangat tenang, angin menertapa pipiku, dingin rasanya.
“Excuse me, it flowers for you.” Tiba-tiba seorang pria separuh baya menghampiriku dan memberikan setangkai bunga mawar merah kepadaku. Aku bingung siapa yang memberikan bunga ini?
“Who gives this flower for me?” Tayaku setelah aku menerima bunga dari pria separu baya itu.
“Someone.” Jawabnya pendek, lalu pria itu pergi meninggalkanku.
‘Misterus banget’ Batinku. Dan sekarang terdengar suara petikan gitar tepat disampingku, aku menoleh kearah suara tersebut. Dan ternyata dia adalah seorang polisi yang baru saja ku kenal. Yah dia adalah Andre Ferdiansyah.
““When I see your face…
There’s not a thing that I would change..
Cause you’re amazing..
Just the way you are..
And when you smile..
The whole world stops and stares for a while..
Cause girl, you’re amazing..
Just the wa you are..”
Yah lagu itu adalah lagu Bruno mars. Andre menyanyikannya sangat merdu sekali. Tak ku sangka, polisi yang besikap dingin sepertinya juga bisa romantis. Senyumanku terus mekar melihatnya.
“Bunga ini kamu kasih untuk saya?” Tanyaku sambil mengangkat bunga yang ada ditanganku sedari tadi. Dia mengangguk artinya dialah yang memberikam bunga itu kepadaku.
“Dalam rangka apa kamu memberikan bunga kepada saya?” Tanyaku kembali.
“Tidak dalam rangka apa-apa.” Jawabnya.
“Terus?” Tanyaku masih penasaran. Andre tersenyum kepadaku.
“Yah anggap saja ini sebagai tanda perminta maaf saya, kerena kemarin saya sudah berbicara kasar kepadamu. Seharusnya saya tidak melakukan itu semua, karena saya tidak mau melukai perasaan wanita, itu sama saja saya menyakiti perasaan ibu saya sendiri.” Jawabnya dengan panjang lebar.
Aku menagambil napas dalam-dalam, lalu ku buang perlahan-lahan. Senyumanku tak henti-hentinya untuk selalu mekar, mekar dan mekar.
“Kamu mau maafin saya kan?” Kini Andre yang bertanya kepadaku.
“Iya, saya sudah memaafkan mu, dan terimakasih atas bunga dan lagunya tadi. Suara kamu bagus, saya suka.” Jawabku tersenyum sambil mencium bunga yang di berikan Andre kepadaku. Wangi sekali Bunga ini.
“Iya sama-sama Cesta.” Ucap Andre.
          Malam harinya, aku sampai di depan gedung apartement. Andre mengahntarkankku setelah kami menghabiskan seharian waktu untuk berjalan-jalan. Andre adalah sosok pria yang bertanggung jawab dan romantis pastinya, walaupun sikap sebenarnya sangatlah dingin.
“Makasih ya Andre, udah mau nemenin saya seharian ini.” Ucapku.
“Iya sama-sama Cesta. Saya seneng bisa bertemu dengan kamu, wanita yang sangat unik.” Ucapnya. Aku tertawa kecil melihatnya.
“Iya saya juga seneng bisa bertemu sama kamu, yaudah kamu hati-hati ya.” Ucapku.
“Iyaa,, selamat malam.” Ucap Andre lalu pergi meninggalkanku.
Hari yang sangat menyenangkan. Aku langsung mesuk kedalam apartement dengan hati yang sangat gembira. Tak luput juga aku selalu tersenyum.
“Cesta, lo dari mana aja?” Tanya Vera setelah dia membukakan pintu untukku. Aku masih saja tersenyum, lalu aku masuk dan duduk di dekat Lidia dan Gladis.
“Yeee.. orang ditanya, malah cengengesan. Kesambet lo ya?” Tanya Vera sedikit sewot, kerena aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Hah? Cesta kesambet? Buruan panggilin dukun beranak!” Gladis mulai menunjukkan sikap bloonya.
“Lah kenapa jadi kedukun beranak? Ada-ada aja lo Dis.” Ucap Lidia geleng-geleng kepala melihat Gladis. Aku tersenyum melihatnya.
“Ces, jawab dong pertanyaan gue.” Ucap Vera sedikit momohon.
“Oke gue jawab, gue abis jalan-jalan sama Andre.” Ucapku.
“Whattttt? And the whaaaatttttt? lo jalan sama pak polisi ganteng itu Ces?” Tanya Gladis histeris. Aku mengaggukkan kepalaku.
“Ihhhhh… so swetttt banget.” Ucap Gladis.
“Cieeee… ada yang jatuh cinta nih.” Ledek Vera.
“Ih apaan sih, udah deh jangan ngegosip malem-malem, gak baik. Udah ah gue mau tidur. Night all.” Ucapku, lalu beranjak meninggalkan ketiga sahabatku. Akupun tertidur dengan lelapnya.
          Ke esok harinya, Andre datang menghampiriku ke apartement. Dia memencet bel yang ada di depan pintu apartement.
“Selamat pagi Cesta.” Ucap Andre. Tetapi seketika dia terdiam melihat bukan aku yang membukakan pintu, melainkan Lidia.
“Sorry, kirain saya tadi Cesta.” Ucapnya kembali dengan sedikit merasa malu.
“Oh iya gapapa kok, mau cari Cesta ya?” Tanya Lidia.
Iya” Jawab Andre.
“Cestanya masih tidur. Mau ada apa ya?” Tanya Lidia.
“Oh masih tidur, gapapa kok. Yasudah tolong kasih bunga ini yan nanti kepada Cesta, dan bilangin ke dia kalau jadi cewe jangan bangun siang-siang.” Jawab Andre sambil menitipkan bunga kepada Lidia.
“Iya nanti saya sampaikan, kamu polisi yang ada di coffe itu kan?” Tanya Lidia.
“Iya saya Andre.” Jawab Andre sambil menjalurkan tangannya kearah Lidia.
“Oh, saya Lidia, sahabatnya Cesat.” Ucap Lidia menerima jaluran tangan Andre.
“Yasudah kalau begitu, saya pamit dulu.” Ucap Andre.
“Iya hati-hati ya.” Ucap Lidia. Lalu Andrepun pergi.
‘Tangan dan senyumannya membuat hati ini berdebar-debar’ Batin Lidia.
Tak lama kemudian, aku terbangun dari tidur nyenyakku, dan aku melihat setangkai bunga sudah tergeletak di meja dekat tempat tidurku. Aku segera mengambil bunga itu, lalu membaca surat yang ada di temple di bunga tersebut.
“selamat pagi Cesta, semoga harimu menyenagkan dipagi ini, dan semoga juga kamu bisa menemukan tujuan hidup kamu di paris ini. Ingat tetaplah tersenyum.” Itulah isi surat tersebebut. Yah aku tau itu adalah Andre yang mengirimkan Bunga dan surat ini. Aku beranjak dari tempat tidurku, pergi berlalu keruang tengah, disana Lidia tengah menonton TV sendirian. Aku menghampirinya.
“Morning Lid.” Ucapku duduk disampingnya.
“Morning Ces, udah bangun?” Tanyanya.
“Udah dong..” Jawabku dengan penuh senyuman.
“Tadi Andre datang, ngasih bunga ke lo.” Ucap Lidia.
“Iya tadi gue udah lihat.” Ucapku kembali tersenyum.
“Lo sama Andre pacaran ya?” Tanya Lidia.
“Kita gak pacaran, baru juga kenal.” Jawabku.
“Bohong ah, kalian kelihatan romantis banget.” Ucap Lidia tidak percaya.
“Iya bener, gue gak bohong Lidia. Andre orangnya emang romantis.” Ucapku meyakikkan Lidia.
“Eh,, Vera dan Gladis kemana?” Tanyaku.
“Mereka lagi jalan-jalan.” Jawab Lidia.
“Lo gak jalan-jalan?” Tanyaku.
“Gak ah, lagi males ngapa-ngapain.” Jawab Lidia.
“Hmmm,,, gak boleh males-males dong, yuk temenin gue jalan-jalan. Tapi gue mandi dulu.” Ucapku.
“Duhh males Ces…” Tolak Lidia.
“Plissssss dong Lidia!!” Aku sedikit memohon.
“Yaudah iya iya, tapi buruan mandinya.” Ucap Lidia. Akupun langsung bergegas mandi.
          Kini aku dan Lidia sudah berada disalah satu tempat wisata yang di kota Paris. Memang saja, aku mengajak Lidia walaupun awalnya dia tidak ingin pergi menemaniku tetapi kini dia sudah ada di sampingku dengan senyum di bibirnya. Yah aku sangat menyanyangi Lidia, Vera dan Gladis. Mereka sahabat terbaikku.
“Lid” Suaraku terdengar memanggil nama Lidia. Yah kini aku dan Lidia berada di salah satu coffe setalah asik menulisuri wisata-wisata yang ada di kota Paris.
“Hmm” sahut Lidia. Dia tengah asik meneguk es coffenya.
“Menurut lo, Andre itu gimana sih orangnya?” Tanyaku. Entah mengapa aku bisa bertanya seperti itu kepada Lidia. Sungguh pertanyaan terkonyol yang pernah ku rasakan. Kini mata Lidia melirik kearahku setelah dia sempat memperhatikan gadgetnya. Dia menatapku, entah apa yang dipikirkannya aku tidak tahu.
“Andre baik kok orangnya, buktinya dia mau bela-belain nemenin lo di coffe pada saat gue Vera dan Gladis ninggalin lu pas kita baru aja nyampe di Paris.” Jawab Lidia setelah beberapa detik menatapku, yang aku tak tahu apa arti tatapan itu. Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Lidia benar juga, Andre memang baik tapi sayangnya sikap yang terlalu kelewatan dingin itu yang membuatku jengkel kepadanya. Huh entahlah mengapa pikiranku selalu dihantui oleh bayang-banyang Andre. Seorang polisi yang dingin melibihi es yang ada di kutup.
“Kok lo nanyain Andre?” Tanya Lidia yang menyadarkanku dari lamunanku, yah tampa aku sadari aku telah melamunin Andre. Ahhrrrgggggg Tuhan ada apa dengan diriku??. Batinku.
“Ahh?? I-iya gak kenapa-napa sih Lid” Jawabku terbata-bata sambil nyengir memamerkan gigi putihku.
“Lo suka sama Andre?” Tanya Lidia dengan penuh penyelidikan dimatanya.
What? Gue suka sama si polisi dingin itu? Enggak! Gak mungkin. Ya TUHAN!. Jeritku dalam hati.
“Ihhh,, eng.. emm.. enggak Lid, gue gak suka sama Andre” Jawabku dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat rebus. Kini keheningan terjadi diantara aku dan Lidia. Kami terhanyut oleh pikiran kami masing-masing.
Apa benar yang dikatakan Cesta? Tapi jika dia berbohong, kenapa hatiku terasa sakit? Jujur saja aku cemburu melihat Andre dan Cesta. Ya Tuhan apa mungkin aku yang menyukai Andre? Jika benar, apakah Andre juga menyukaiku?. Batin Lidia.
          Ke esok harinya Andre datang menemuiku dan mengajakku jalan-jalan, katanya hari ini dia lagi libur berkerja. Yah sayang loh kalau rezeki di tolak hehe.. akhirnya aku menerima tawaran Andre, yah aku juga tengah bosan di apartement Lidia karena ketiga sahabatku kembali pergi meninggalkanku sendirian. Huh menyebalkan bukan?
“Malam Ces.” Sapa Andre setelah menemuiku yang sedari tadi telah menunggunya di depan apartement. Aku tersenyum kearahnya sebagai tanda jawaban sapaannya.
“Maaf ya kamu nunggu lama” Ucap Andre.
“Yah lumayanlah.. yang sejelas aku belum kriting sih nungguinnya” Jawabku dengan wajah sok imut. Atau wajah yang sok ku imut-imutkan.
“Gak usah ngomel gitu dong” Ucapnya menggodaku dengan tangan yang sudah melingkar di leherku.
“Isss,, siapa yang ngomel?” Tanyaku dengan tetapan tak mengerti
“Hahaha.. Mungkin Cuma perasaan aku aja kali yah, yaudah yuk!” Ajaknya menarik tanganku.
Malam ini memang indah, apalagi ditemani oleh seorang pria yang sangat tamapan yang sudah ada di sampingku dengan seyuman manisnya. Ya Tuhan sungguh bahagianya hatiku ini. Andre mengajakku ke gembok cinta. Yah entah apa maksud Andre mengajakku ketempat ini. Yang jelas suasana hatiku saat ini tengah bahagia. Kami telah sampai di tembok cinta, suasana malam hari ini sangatlah ramai oleh sepasang kekasih yang ada ditemapat ini.
“Kok kita ketempat ini?” Tanyaku setelah kami berada di salah satu dari sekian banyak gembok yang berwarna-warni yang memanjakan mata ini. Andre mengambil dua gembok yang tergantung indah sedari tadi.
“Memangnya kenapa kalau saya ajak kamu ketempat ini? Ada yang salah?” Andre berbalik bertanya kepadaku.
“Yah.. aneh saja, ini kan tempat untuk sepasang kekasih yang akan mengikat janji mereka dengan gembok-gembok cinta ini.” Jawabku sambil mengarahkan satu gembok kepada Andre. Lelaki didepan ku ini tersenyum, hal itu yang menambah tingkata ketampanannya.
“Tempat ini bukan hanya untuk sepasang kekasih yang akan mengikat cinta mereka, tetapi untuk mereka yang mempunyai seseorang yang berharga dalam hidupnya.” Ucap Andre tersenyum kembali. “Lagian tempat ini hanya mitos saja, yah buat seru-seruan. Tidak salahkan?” Lanjutnya lagi. Kini akulah yang tersenyum kepadanya.
“Iya tidak salah.” Tuturku. Kamipun kembali melanjutkan malam yang sangat indah ini. Malam dimana aku merasa sangat nyaman berada disisi seorang lelaki seetelah ayahku. Malam dimana aku merasa detak jantungkku yang berdebar sangat kencang dan tidak bisa diajak kompromi. Malam dimana aku merasa berterimakasih kepada Tuhan yang telah menciptakan pahatan yang sangat indah yang ada pada diri seorang polisi muda bernama Andre Ferdiansyah.
          Malam ini aku dan ketiga sahabatku tengah menghabiskan waktu bersama di pantai yang tidak jauh dari menara Eiffel. Tawa canda terlontar dari kami. Raut wajah bahagia masih setia menemani kami,
“Eh tau gosip terbaru gak?” tanya Vera kepada kami,
“Gosip apa ver?” Tanyaku. Yah Vera walaupun dia adalah wanita yang tomboy, tetapi jiwa gosip ibu-ibu tidak lepas dari dirinya.
“Masa Shawn Mendes nembak gue kemaren.” Kata Vera menahan tawanya.
“Oh ya nembak pake apa? Lo mati gak Ver?”  Gladis bertanya dengan santainya.
“Et si pea.. Maksud gue si Shawn Mendes mengungkapkan cinta sama gue semalem, kata gini ‘Vera i love you so much’ gituuu..” Jawab Vera sambil tersenyum.
“Aelah kebanyak berkhayal lo Ver, si Shawn Mendes aja kaga kenal sama lo.” Kata Lidia ikut menenimpali perkataan Vera. Yah Vera adalah salah satu dari berjuta-juta orang yang sangat mengilai penyanyi asal Canada itu.
“Bilang aja lo cemboker kan sama gue Lid?” Ledek Vera kepada Lidia. Wanita yang bernama Lidia itu langsung menoyol kepala Vera, “Enak aja lo... Gue gak level sama brondong kaya si Shawn Mendes itu.” Kata Lidia sambil terkekeh.
“Eh btw cemboker apa sih?” Tanya Gladis dengan polosnya.
“Au ahh Dis, terserah lo aja.” Jawabku gemas,
“Ih kan gue gak tau.” Tutur Gladis masih memasang tampang polos tak berdosanya,
“Lo mau tau cemboker apa?” Tanya Vera. Gladis mengannggukkan kepalanya,
“Cemboker itu kalo lo lagi sakit perut terus lo ngeden pasti keluar kuning-kuning dah.” Kata Vera dengan jawaban yang melantur. Satu geplakan mendarat dikepala Vera. “Njir.. si Lidia doyan amat geplak kepala gue, dipitrahin nih pala gue ama emak bapak gue.” Keluh Vera. Aku dan Lidia sudah tidak bisa menahan tawa lagi.
“Abis lo jawabnya ngelantur Ver, itu boker bukan cemboker.” Ucap ku sambil menahan tawaku.
“Iya deh dedek salah lagi.. Tuhan dedek sedih.” Vera memasang tampang sedihnya.
“Najisun lo Ver, sumpah jijik gue.” Ucap Lidia sambil melempar potongan kentang goreng kearah Vera.
 “Anjir.. kampret lo Lid.” Balas Vera. Tawa kamipun pecah seketika.
“Eh btw.. Kayaknaya Lidia cocok deh sama Mario Maurer.” Kini Gladis lah yang angkat suara. Kami bertiga bingung dengan apa yang diucapkan Gladis,
“Mario Maurer siapa?” Tanyaku.
“Tau nih Gladis, gue taunya mah Mario Teguh. Kalo itu baru cocok banget sama Lidia.” Cerocos Vera. “Anju lo..” Teriak Lidia kesal.
“Ihh kalian ketinggalan berita banget sih.. Mario Maurer itu artis terganteng dari Thailand. Nih kalo gak percaya gue kasih fotonya.” Ucap Gladis sambil menyodorkan ponselnya kepada kami bertiga.
“Astogee.. Ganteng binggowww, buat gue aja ini Dis.” Teriak Vera histeris setelah meliahat lelaki tampan dari ponsel milik Gladis.
“Ih lo kan udah sama Shawn Mendes, jangan maruk dong Ver.” Sanggah Lidia
“Btw tumben Dis, lo gak mau sama cowok ganteng ini. Biasanya kan lo paling tergila-gila sama cogan.” Ucapku.
“Iya dia udah tuwir sihh,, coba masih mudah gue pacarin tuh.” Sahut Gladis.
“Yee bocah. kasih cowok ke gue yang udah tuwir. Lo kira gue mau sama om-om?” Kata Lidia kesal. Kamipun kembali tertawa.
“Eh, kalo cowok buat Cesta siapa yah yang cocok?” Tanya Gladis.
“Yah siapa lagi, kalau bukan si bapak polisi itu, siapa dah namanya?” Tanya Vera.
“Andre.” Jawabku singkat. “Cieeee... Cesta udah jadian yah sama pak polisi ganteng itu?” Tanya Gladis menggodaku.
“Ihh apaan sih.. Enggak!! Gue gak jadian sama dia.” Bantahku.
“Gak jadian tapi saling suka. Hahah hati-hati kena friendzone lo berdua.” Kini Veralah yang meledek ku. Wajahku sudah merah seperti tomat. Entah mengapa setiap nama Andre disebut hatiku terasa berdebar-debar tak karuan. Seketika Lidia kehilangan moodnya. “Gue ketoilet dulu yah.” Ucap Lidia pergi melangkah jauh dari hadapan kami. Sebelum itu aku sempat melihat mata Lidia berkaca-kaca.
“Lidia kenapa?” Tanyaku khawatir.
“Oh shiitttt.. Gue keceplosan.” Ucap Vera menepuk keningnnya.
“Maksudnya?” Tanyaku tak mengerti. Tampak Vera mengambil napas dalam-dalam.
“Sebenarnya gue mau ngasih tau ini sama lo Ces, tapi gue takut.” Jawab Vera ragu.
“Takut kenapa? Kenapa sebenarnya?” Tanyaku bertubi-tubi.
“Iya.. sebenarnyaa Lidia suka sama Andre.” Jawab Vera dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan. Seketika aku langsung mengejar Lidia. Yah sejujurnya hatiku sakit menerima kenyataan ini. Bagaimana tidak? Aku dan sahabatku suka dengan pria yang sama. Aku tidak tahu harus buat apa lagi, yang ku pikirkan saat ini adalah Lidia. Yah kemana dia pergi? Aku sangat mengkhawatirkannya. Mataku melebarkan pandangan kesekitar tetapi tetap saja aku tidak menemukannya. Oh Tuhan, aku harus bangaimana? Kaki ku terus melangkah dengan sedikit tergesah, hatiku tak karuan, pikiranku sudah tak karuan lagi. Yah banyak yang berkecambuk di dalam pikiranku ini. Sampai akhirnya aku menemukan Lidia tengah terduduk termenung didekat sebuah pantai. Aku yakin saat ini dia tengah menangis, karena nampak punggungnya bergetar hebat. Kakiku melangkah kearahnya dan duduk disampingnya. Hening. Yah yang terjadi hanyalah keheningan diantara kami. Canda dan tawa yang sempat menghiasi waktu kami tadi seketika luntur begitu saja, sangat canggung. Yah itulah yang ku rasakan saat ini, untuk detik ini.
“Lidia.” Lirihku menyentuh pundaknya. Yah akulah yang memecahkan keheningan diantara kami berdua. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan secepatnya. Lidia bungkam. Dia tidak merespon sama sekali, yang dilakukaknnya hanyalah diam seribu kata. Aku benci seituasi seperti ini. Sangat benci!!
“Gue sama Andre gak ada hubungan apa-apa.” Kataku. Aku harap Lidia kini meresponku. Lidia melempar pandangannya kerahku, ditatapnya aku dengan tajam menggunakan mata elangnya.
“Gue gak perduli.” Serunya acuh. Tetapi, aku yakin dia sangat perduli.
“Gue akan buat Andre jatuh cinta sama lo Lid.” Kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Sejujurnya kata-kata ini dapat melukai hatiku sendiri. Bagaimana tidak? Aku akan merelakan pria yang aku cintai, pria yang menjadi cinta pertamaku untuk sahabatku sendiri. Tetapi, inilah yang terbaik. Andre maafkan aku.
“Lo gak cinta sama Andre?” Tanya Lidia.
“Gak. Gu..gue gak cinta sama Andre.” Jawabku dengan sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak jatuh menetes. Yah aku pembohong. Kalian boleh nilai aku dengan munafik. Tetapi, ini aku lakukan untuk sahabatku, Lidia. Lidia seketika memelukku dengan begitu erat. “Gue cinta sama Andre.” Lirihnya dalam tangisannya. Ya Tuhan, apakah jatuh cinta itu menyakitkan seperti ini? Jika aku tahu kalau jatuh cinta itu menyakitkan, aku tidak akan pernah sudi untuk jatuh cinta. Tetapi ini sudah takdirku, hamba yakin Engkau telah menyiapkan Hikmah dibalik semua ini.
          Andre mengirim pesan singkat kepadaku yang berisi mengajakku kencan malam hari ini. Dari dalam hatiku yang paling kecil aku sangat bahagia. Tetapi, aku tidak akan lupa kalau aku akan membantu Lidia agar mendapatkan hatinya Andre. Segera aku menemui Lidia yang tengah bercengkrama dengan Vera dan Gladis.
“Lid, Andre malam ini ngajak gue kencan. Lo nanti malam harus temui dia yah.” Ucapku kepada Lidia. Vera tak acuh menanggapi perkataanku itu. Yah Vera adalah orang yang menentang dengan rencanaku ini. Dia pernah berkata:
“Lo yakin bakal comblangin Lidia sama Andre, Ces?” Tanyanya. Aku menganggukan kepalaku mantab.
“Tapikan lo cinta sama Andre, Ces.” Tuturnya. Yah Veralah satu-satunya orang yang mengetahui perasaaan ku kepada Andre.
“Gue mau Lidia bahagia, Ver.” Kataku dengan mantab. Aku harap Vera bisa memahami apa maksudku, karena aku sangat menyayangi Lidia dan kedua sahabatku yang lain.
“Kan pak polisi ganteng ngajakin lo ces, bukan ngajakin Lidia. Kenapa Lidia yang datang?” Tanya Gladis bingung. Yah Gladis, dia tidak tahu soal ini. Ingatkan aku untuk memberi tahunya nanti.
“Diem aje lo nyuk.” Ciletuk Vera kepada Gladis. Gladis hanya bisa mencurutkan mulutnya seperti bebek yang minta dicium. Yah begitulah kira-kira gambaran imajinasiku terhadap Gladis.
“Tapi ces-“ Ucapan Lidia segera aku potong.
“Udah.. sekarang gak ada tapi-tapian! Nanti malam lo temuin Andre dan buat Andre nyaman dan jatuh cinta sama lo.” Sanggahku cepat.
“Kalau gitu, Lidia harus dandan cantik tuh, biar pak polisi ganteng kelepek-kelepek.” Celetuk Gladis sambil mengunyah kentang gorengnya. Yah kami sekarang tengah bersantai diruang tengah apartement.
“Ikan kali ah, kelepek-kelepek.” Timpal Vera sambil melempar potongan kentang ke arah Gladis. Gladis hanya bisa terkekeh.
“Bener juga kata Gladis, pokoknya malam ini lo harus tampil cantik, Lid.” Ucapku bersemangat.
“Kalau urusan dandanan serahin aja sama gue.” Ucap Gladis sambil memukul dadanya, bangga. Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Gladis.
          Malam harinya, Lidia telah terlihat begitu cantik dengan balutan dress panjang berwarna merah marun, pasmina yang telah diberi model, dan high heels warna toska yang tampak cantik digunakannya. Semua ini hasil kreasi Gladis.
“Guys, taxinya udah dapet tuh.” Seru Vera. Yah Andre memang tidak menjemput, karena aku yang menyuruhnya untuk menunggu di coffe yang kami sepakati tadi.
“Ces.. nanti gue harus gimana?” Tanya Lidia grogi. Aku tersenyum kepadanya.
“Yakin sama gue, kalau lo bisa buat Andre jatuh cinta sama lo. Niatin dihati lo.” Jawabku mantab.
“Tul, jangan lupa baca bismillah dulu, Lid.” Timpal Gladis. Lidia hanya menggukkan kepalanya. Dan dia langsung pergi menggunakan taxi yang telah menunggunya sedari tadi. Aku tersenyum. Yah senyuman yang sangat memilukan sekali. Vera menepuk pundak ku. Aku tahu maksudnya, dia memberikanku semangat. Yah lagi-lagi aku berkata dalam hati inilah yang terbaik.
          Sementara di tempat lain, Andre telah duduk disebuah coffe yang terbilang sangat romantis. Dia malam hari ini terlihat sangat tampan dengan kemeja yang dibalut dengan jas biru dongkernya. Rambutnya ditata rapih, menambah tingkat ketempanannya. Malam ini Andre akan mengutarakan isi hatinya kepada wanita yang bernama Cesta Sarasati. Wanita beberapa minggu ini ditemuinya di menara Eiffel yang tengah kebingungan mencari ketiga sahabatnya, wanita yang bingung apa tujuannya ke kota Paris ini, wanita yang asik di ajak ngobrol, wanita yang manis, dan tentunya wanita yang bisa merebut harinya. Andre baru merasakan indahnya jatuh cinta, rasanya ia sangat bahagia bila membayangkan wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
“Andre.” Terdengar suara wanita memanggil namanya. Dia langsung mendongakkan pandangannya kearah suara tersebut. Itu pasti Cesta. Batinnya. Tetapi apa yang diharapkan tidak terjadi. Suara itu bukanlah suara Cesta melainkan sahabat Cesta.
“Hai.. boleh aku duduk disini?” Tanya Lidia. Andre hanya menggukan kepalanya. Banyak pertanyaan-pertanyaan berputar dikepalanya. Mengapa Cesta tidak datang? Dan mengapa sahabatnya yang datang? Apa yang tengah terjadi?
“Cesta gak bisa datang karena ada urusan mendadak. Dan dia nyuruh aku buat menemui kamu disini.” Pertanyaan yang ada di kepala Andre terjawab oleh Lidia. Andre samapai mengira bahwa Lidia punya kekuatan untuk membaca pikiran seseorang.
“Dan ini ada titipan dari Cesta.” Lanjutnya lagi dengan menyodorkan sepucuk surat dengan amplop berwana biru laut itu. Andre menerima surat itu dan segera membacanya.
Dear Andre Ferdiansya, polisi yang kaku dan romantis yang pernah ku kenal.
Haii Andre. Terimakasih telah mengajari aku apa arti hidup ini. Terimakasih kamu telah membuat hidupku berwana dengan segala yang telah kamu berikan kepadaku. Aku sangat sangat berterimakasih. Aku berharap kamu bisa memahami apa maksudku ini, aku tahu kamu menyukaiku. Bakan bukan Cuma menyukai saja, tetapi kamu juga mencintaiku. Aku hanya ingin berkata maaf. Maaf karena aku tidak bisa membalas cintamu. Aku tahu, aku adalah orang yang paling jahat didunia ini. Kamu boleh kok membenciku, aku terima. Tetapi aku harap kamu bisa melupakanku yang tidak pantas kamu cintai ini, cobalah buka hati kamu untuk wanita lain yang ada di dunia ini. Aku nyaman berada di dekatmu sebagai teman tidak lebih. Terimkasih Andre telah mencintaiku, dan maaf jika aku mematahkan hatimu.
Salam, Cesta Sarasati.
Andre terpaku membaca surat tersebut. Hatinya sangat hancur berkeping-keping. Mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta jika Tuhan juga memciptakan rasa patah hati? Ini sangat tak adil!! Mengapa secepat ini? Rasanya baru sebentar dia menemukan kebahagiaanya, tetapi sekarang kebahagiaan itu pergi jauh meninggalkannya.
“Cesta gak mencintaimu, Andre.” Tutur Lidia. Andre menatap lurus kerah Lidia. Andre memilih untuk bungkam.
“Aku tau perasaan kamu gimana, tetapi coba kamu buka hati kamu untuk wanita yang benar-benar mencintaimu.” Ucap Lidia mengenggam erat tangan Andre.
Apa katanya? Tidak mudah untuk semua ini. Batin Andre.
“Aku mencintaimu, Andre.” Bisik Lidia tepat ditelinga Andre. Oh Tuhan dia ingin kata-kata ini terucap dari mulut Cesta bukan Lidia.
          Hari ini adalah hari terakhir aku dan ketiga sahabatku di kota Paris ini. Banyak sekali pelajaran yang ku dapatkan disini. Aku bisa menemukan cinta pertamaku disini dan aku juga kehilangan cinta pertamaku itu di tempat ini juga. Luar biasa sekali bukan? Yah setelah malam dimana Andre memintaku menemuinya di coffe dan aku malah tidak datang, melainkan yang datang adalah Lidia sahabatku yang sangat mencintai Andre Ferdiansya, seorang polisi yang kaku dan juga romantis. Andre tidak pernah mengabariku lagi. Yah aku tahu dia sangat marah dan kecewa kepadaku, aku pantas menerima semua ini. Aku tahu itu. Bahkan sekarang Andre telah membuka hatinya untuk Lidia. Yah mereka akhir-akhir ini sangat dekat, mungkin saja mereka sudah jadian. Ah sudahlah itu bukanlah urusanku. Yang terpenting saat ini aku bisa melihat senyuman yang mengembang di wajah sahabat-sahabatku terutama Lidia. Aku sangat bahagia sekali mempunyai sahabat seperti mereka. Memang terkadang benar kata pepetah, kalau cintai itu tidak harus memiliki. Aku mencintai Andre, sangat mencintainya. Tetapi, aku tidak bisa memilikinya. Memiliki seorang Andre Ferdiansyah ibarat mendapatkan nilai seratus di ulangan matematika ku, susah untukku dapatkan.
“Cesta.” Vera memanggil namaku. Aku menoleh kearahnya.
“Lo orang yang terbijak sedunia menurut versi gue.” Ucapnya dengan tersenyum. Yah aku juga ikut tersenyum.
“Gue harap Lidia akan bahagia bersama Andre.” Tuturku. Vera hanya mengaggukkan kepalanya yang artinya dia setuju denganku. Kini aku dan Vera berada di depan menara Eiffel.
“Cesta, Vera.. Gue dapet alat make up terbaru dari Paris.. Duh ini buat oleh-oleh gue buat bunda.” Teriak Gladis kegirangan. Gladis tadi memang pergi bersama Lidia untuk membeli oleh-oleh untuk kami bawa pulang ke Indonesia, negara yang kami cintai. Aku dan Vera hanya bisa terkekeh. Inilah hidup, inilah cinta, inilah takdir. Aku percaya dengan semua itu. Tuhan akan memberikan kebahagiaan untuk umatnya. Tuhan aku bahagia, sangat bahagia telah mengenalnya dan telah mempunyai sahabat seperti ketiga sahabatku ini. Terima kasih Tuhan.
Aku tahu Cesta adalah wanita yang sangat bijak dan pintar. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tetapi takdir tidak memepersatukan kami. Aku bahagia bisa mengenal Cesta, Aku bahagia sempat dekat dengan dirinya, aku bahagia sempat tertawa bersamanya, aku bahagia. Terimakasih Tuhan telah menciptakan seorang gadis bernama Cesta Sarasati. Walau bagaimanapun dia tetap cinta pertamaku.  -Andre Ferdiansyah.
Tamat ......

No comments:

Post a Comment