Paris Van Java
Akhirnya kami sampai di paris, tempat
yang kami impi-impikan dari dulu. Awalnya aku merasa ini adalah sebuah mimpi di
siang bolong, karena untuk menginjakkan kaki di kota paris adalah hal yang
berat aku capai. Bagaimana tidak? Aku harus menyediakan uang yang sangat banyak
agar dapat ke kota
Paris. Tetapi, semua ini sudah terjawab, aku dan ketiga sahabatku sudah berada
di kota Paris tepatnya di menara Eiffel. Ketiga sahabat akulah yang membantuku
agar bisa ke kota Paris nan romantis ini.
“Paris!!!
Yey kita sampai di Paris.” Teriak Gladis, salah satu sahabatku yang memiliki
sifat telmi atau telat mikir. Dengan begitu, dia tampak lucu dan menarik.
Tujuannya ke kota
Paris adalah ingin melihat koleksi-koleksi fhasion yang ada di kota ini. Tentu
saja Gladis adalah tipikal
wanita yang sangat feminism. Sedangkan
Vera adalah sahabatku yang paling tomboy, hobinya menjahili teman.
Tetapi, dia mempunyai tujuan di kota Paris
adalah dia ingin menjadi potografer yang handal, dan bisa mempoto tempat-
tempat yang menarik di kota Paris ini. Kalau bisa ya Ver hehehehe….
Nah,
sahabat aku yang satu ini orangnya pendiam banget, namanya Lidia. Tujuannya
berada dIsini adalah ingin meliput semua kejadian-kejadian yang ada di kota Paris. Waw!! Ekstrem
juga ya…
Tapi
tunggu, aku udah ceritaiin tentang ketiga sahabatku, beserta tujuan mereka di kota Paris, kalau aku? Apa
ya tujuanku di Paris ini? Sebenarnya aku bingung mau ngapain saja di kota Paris nan indah
dan romantis ini. Mataku tertuju ke menara Eiffel yang berdiri kokoh tepat
dihadapanku. Paris adalah negara yang romantis, yah banyak orang yang berkata seperti
itu, bahkan film-film dari Indonesia banyak yang syuting ke kota Paris ini,
tujuan mereka adalah agar terciptanya kemistri romantis antar pemain yang akan
beraction. Dan banyak juga yang berkata kalau sudah ada di Paris pasti akan
medapatkan jodoh yang kita inginkan. Hmmmm itu benar gak ya? Tapi menurutku itu
Cuma mitos saja, coba pikir pakai logika, masa iya kota yang memberikan kita
jodoh? Jodoh, maut, rezeki yang menentukan Allah SWT. Terkadang manusia memang
pintar mengada-ngada. “bruk!!!!” yah, itu adalah suara, yah suara!! Tanpaku
sadari, aku menabrak seorang pria yang memakai seragam polisi, berparas tampan, memiliki rahang yang keras, hidung yang menjulang
kedepan dan berpostur tinggi tegap. Pria itu
tepat dihadapanku, jarak kami sangatlah dekat. Tetapi tidak dekat dekat banget
sih hehehee….
“I-I’am sorry mister” Kataku
dengan tergugup. Oh sial mengapa aku jadi gugup seperti ini? Oh ayolah
jantung, tolong dikondisikan.
“Yah, no problem”
Sahutnya singkat dengan nada datar. Hmm kalau dilihat-lihat pria ini bukan asli
penduduk kota Paris ini.
Karena tampangnya bukan bule. Sepertinya pria ini orang Indonesia. mataku
melihat suasana sekitar, banyak sekali pengunjung. Tetapi Gladis, Vera, dan
Lidia kemana?
“Loh?
Mereka kemana? Gue di tinggalin sendirian. Duh” Aku bermonolog.
“Maaf,
apakah kamu
berasal dari Indonesia?” Tanya pria itu kepadaku.
“Iya
saya dari Indonesia. Apakah kamu juga dari
Indonesia?” Aku berbalik bertanya.
“Iya,
saya berasal dari Indonesia.” Jawabnya.
Yapz!!
Tebakanku benar pria ini asli orang Indonesia.
Karena kami sama-sama berasal dari
Indonesia, maka kami sempat berbincang-bincang. Pria itu mengajakku kesebuah
coffe yang tidak jauh dari menara Eiffel. Katanya sih mau mengajak aku ngopi,
yah selagi itu halal dan tidak dilarang oleh agama, kenapa tidak? Sayang loh
rezeki kalau ditolak.
“Jadi
kamu ke Paris bersama siapa? Orang tua? Pacar? Atau teman?” Tanyanya
bertubi-tubi. Kami memang sudah sampai di coffe tersebut.
“Sama
ketiga sahabat saya. Yah paris , memang impian kami” Jawabku.
“Terus,
kalau kalian sahabat, kenapa mereka meninggalkanmu?” Pria itu bertanya kembali.
“Mereka
tidak meninggalkan saya, mungkin saja mereka tengah berkeliling menara Eiffel.
Yah kota Paris adalah impian kami dari dulu, ketiga sahabat
saya juga memiliki tujuan ke kota ini. Yah ada yang ingin melihat
koleksi-koleksi fhasion, ada juga yang ingin mengambil keindahan kota Paris ini
dengan gambar, ada juga yang ingin meliput kejadian-kejadia yang ada di kota
ini. Keren kan?” Aku memceritakan kepada pria itu
tentang ketiga sahabatku.
“Iya
keren, tapi yang keren ketiga sahabatmu. Lalu tujuan kamu sediri apa?” Tanya
pria itu dengan tampang dinginnya. Spontan saja aku terdiam mendengar pertanyaan
itu, aku memang bingung menjawabnya, pertanyaan ini sangatlah susah! Lebih
susah dari pada soal-soal UN (Ujian Nasional). Akupun tersenyum kikuk kepadanya.
“Tujuan
saya… hmmm.. tujuan sayaaa.. Ah saya juga bingung apa tujuan
saya kesini” Aku menjawab dengan kebingungan. Tampak dia menaikkan sebelah alisnya dan seketika
dia tertawa, entah apa yang lucu.
“Kenapa?”
Tanyaku dengan tampang polos. Duh kalau lama-lama kaya gini,
yang ada aku sama seperti Gladis, yang sering menunjukkan tampang polos dang
mengimutkan.
“Saya
lucu melihatmu, tujuan kamu di Paris ini saja tidak tau, apa lagi tujuan
hidupmu? Apa jangan-jangan kamu tidak punya tujuan hidup?” Pria itu melanjutkan
tawanya.
‘Nih
cowok ganteng-ganteng tapi songong dan nyebelin ya,, huh…. Nyesel deh ketemu
sama ni cowok’ Batinku.
Tampangku
sudah seperti bom atom yang sudah siap meledak.
“Saya
hanya bercanda, jangan masukin hati tapi masukin jantung saja” Ucapnya
tersenyum.
“Sama
saja” Aku mencurutkan bibirku. Kini pria itu tersenyum lebar, yah senyumannya
sangatlah manis, seperti gula. Kalau dilihat-lihat pria ini masih muda, mungkin
seumuran denganku dan ketiga sahabatku.
“Oh
iya, dari tadi kita belum kenalan, nama saya Andre Ferdiasyah” Pria itu
menjalurkan tangannya kearahku.
“Saya
Cesta Sarasati” Aku menerima jaluran tangan pria yang bernama Andre tersebut.
Sementara
itu, Gladis, Vera, dan Lidia sudah kembali ke menara Eiffel, setelah mereka
sempat berkelana.
“Loh,
Cesta kemana?” Tanya Lidia.
“Bukannya
tadi dia disini?” Vera bersuara menunjuk
kearah menara.
“Jangan-jangan
Cesta diculik, duh gawattt!!!” Ucap Gladis histeris.
“Duh
Dis, lo jangan parnoan dulu deh” Ucap Vera
jengkel.
“Yaudah
gue telphon Cesta dulu” Lalu Lidia menelphonku. Tuuttttttttt!!!
Aku
mengeluarkan handphone dari saku celanaku, karena handphoneku berdering.
“Hallo
Lidia” Ucapku dari sebrang telphon.
“Hallo
Ces, lo dimana? Kita nyariin lo dari tadi” Lidia menanyakanku dengan
khawatirnya.
“Gue
ada di coffe dekat menara Eiffel.” Jawabku.
“Yaudah
kita kesana ya” Ucap Lidia.
“Oke
deh” Ucapku. Lalu mereka langsung tancap gas.
Merekapun samapai di coffe tempat aku
berada bersama Andre, yah polisi yang baru saja bilang kalau aku tidak punya
tujuan hidup. Huh sangat menyebalkan!
“Yah
Allah Ces,, lo kemana aja sih?” Tanya Vera
khawatir.
“Gue
gak kemana-mana kok, masih ada di Paris” Jawabku cengengesan.
“Cesta!!!! Lo di tangkep polisi?” Tanya Gladis histeris,
baru saja aku ingin memjawabnya Gladis sudah bertekuk lutut di hadapan Andre
dengan tampang polosnya.
“Pak
polisi, plissssss!! Jangan tangkep Cesta, dia orangnya baik, cantik, tidak sombong dan rajin menabung.”
Ucap Gladis. Lucu sekali melihat sahabatku yang satu ini.
“Eh
Gladis.. percuma lo mau ngomong apa, pak polisinya gak bakal ngerti. Speak
English” Ucap Vera sewot melihat sikap Gladis yang kelewatan polos samapai terlihat bloon.
“Saya
mengerti kok, saya juga orang Indonesia sama seperti kalian” Ucap Andre kepada
semuanya.
“Bapak
orang Indonesia?” Tanya Lidia.
“Iya
Andre orang Indonesia” Aku yang menjawab pertanyaan Lidia.
“Kok bisa sih ketemu sama bapak polisi ganteng
ini?” Tanya Gladis kepadaku.
“Yah
ceritanya gue sempat nabrak Andre dan kami kenalan deh” Jawabku enteng.
“Iya
dia menabrak saya, karena dia bingung. Soalnya kalian meninggalkan dia” Kini
Andre ikut anagkat suara.
“Duh
Ces, sorry ya kita ninggalin lo tadi” Ucap Lidia.
“Makanya
kalau hidup itu punya tujuan” Ucap Andre seperti meledek.
“Saya
punya tujuan hidup kok” Aku membantah ucapannya.
“Kalau begitu apa tujuan hidup
kamu?” Tanya Andre.
Aku
kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi juga aku dibuatnya skakmat.
Huh sangat menyebalkan.!
“Tuh,
kamu saja bingung. Yasudah karena kamu sudah bertemu dengan sahabatmu, saya
pamit dulu.” Ucap Andre lalu beranjak pergi.
“Dadah
bapak polisi ganteng.” Ucap Gladis dengan tampang polosnya.
“Tunggu!!!!!!!”
Teriakku. Andre berhenti dan memutar tubuhnya kearahku.
“Ada
apa lagi?” Tanyanya dengan sikap yang dingin.
“Saya
akan membuktikan kepada bapak polisi Andre Ferdianyah, bahwa saya punya tujuan
hidup.” Jawabku dengan suara yang meninggi.
“Oke
saya terima pembuktian kamu, saya tunggu.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami
semua.
“Iiiiihhhh…..
ngeselin banget sih tuh cowok!” Geramku.
“Pak
polisi itu gak ngeselin Ces, dia kan ganteng dan unyu-unyu gimana gitu.” Ucap
Gladis membela Andre.
“Duh…
Dis. Udah deh gak usah keganjenan.” Ucap Vera.
“Kenapa
sih Ver? Lu sirik?” Gladis mulai sewot melihat sikap Vera.
“Dih,
siapa yang sirik? Enak aja lo.” Vera mulai emosi. Memang saja, Vera dan Gladis
sering berantem, tapi itu yang membuat mereka
dekat. Ada-ada saja memang.
“Udah-udah
kalian jangan berantem.!! Mendingan sekarang kita ketempat penginapan. Ayah sama
bunda gue
udah nyiapin semua.” Ucap Lidia.
“Asyikkkk….
Gue bisa tidur.” Ucap Vera kegirangan. Lalu kamipun tancap gas.
Sesampainya di tempat penginapan,
sebetulnya tempat ini adalah apartement milik kedua orang tua Lidia. Kami
langsung membereskan pakaian dan barang-barang yang kami bawa. Setelah itu kami
tak luput juga menunaikan ibadah sholat magrib, karena waktu sudah menunjukkan
petang hari.
“Ces,
lo kenapa melamun?” Tanya Lidia. Kami memang sudah selesai menunaikan ibadah
sholat magrib. Kini aku berada di rooftop apartement sembari melihat indahnya
kota Paris dimalam hari. Sedangkan Vera dan Gladis sudah tertidur lelap di atas tempat tidur
yang sangat empuk.
“Gapapa
kok Lid” Jawabku tersenyum kepada Lidia.
“Bohong,
udah deh cerita aja sama gue, kan kita sahabat.” Ucap Lidia dengan sorot mata
menyelidikiku. Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan
perlahan-lahan.
“Gue
bingung Lid” Ucapku.
“Bingung
kenapa?” Tanya Lidia.
“Gue
bingung, sebenarnya tujuan gue kesini itu apa?” Jawabku.
“Setiap
orang pasti punya tujuan yang akan dijalaninnya Ces.” Ucap Lidia.
“Iya
gue tau itu.” Ucapku.
“Terus
kenapa lo harus bingung?” Tanya Lidia.
“Tue
bingung tujuan hidup gue di Paris
ini apa Lid, gue bingung harus ngapai di sini” Jawabku. Suasana hening.
“Gue
yakin suatu saat nanti lo pasti menemukan jawabannya.” Ucap Lidia
“Gimana
caranya gue buktiin kepada Andre (pak polisi) kalau gue punya tujuan hidup,
terutama tujuan hidup gue di Paris ini.” Ucapku
“Lo
pasti bisa Ces, yang penting lo harus optimis, Cesta yang gue kenal gak gampang
menyerah dan tetap optimis menjalani hidup ini, walau banyak rintangan dan
hadangan.” Ucap Lidia. Yah Lidia memenang sahabatku yang paling mengertiku,
Vera dan Gladis juga sahabat yang mengertiku, pokoknya aku sayang sama mereka
bertiga.
“Makasih
ya Lidia, gue seneng punya sahabat kaya lo, Vera dan Gladis” Ucapku memeluk
Lidia.
“Iya
sama-sama Cesta. Yaudah yuk kita istirahat” Ucap Lidia.
Ke esok harinya, aku menghampiri Andre
ke tempat pertama kali kami bertemu. ‘Siapa tau aja dia masih bertugas di sana’
Batinku.
Sesamapainya
disana, atau lebih tepatnya di menera Eiffel. Mataku langsung mencari sesosok
lelaki yang berserangam polisi dan memiliki paras tampan, tak luput juga
memiliki senyuman yang sangat menawan. Tujuanku menemui Andre bukan untuk
membuktikan apa tujuan hidupku. Tetapi, entah mengapa aku ingin bertemu dengan
dirinya. Hmmmm…..
“Mau
cari siapa?” Tiba-tiba suara itu,, yah suara Andre tepat di belakangku. Sontrak
saja aku terkejut, dan memutar tubuhku kerah suara itu.
“Andre..!!!”
Ucapku dengan ekspresi terkejut.
“iya
saya memang Andre, kan kemarin sudah kenalan.” Ucap Andre dengan sikap
dinginnya. Jujur saja aku menuggu senyumannya. Aku tertawa kecil, sebanarnya
tawa itu adalah tawa menahan malu.
“kenapa
ketawa?” Tanya Andre menaikkan sebelah
alisnya.
“Emm..
gapapa kok.” Jawabku tersenyum.
“Kamu
kesini mau memberikan bukti kepada saya?” Tanyanya. ‘Hah!!! Nih cowok langsung to the point banget, duh
gue mau jawab apa? Bukti? Gue belum bisa membuktikan’ Batinku.
“Hei..
kenapa bengong?” tanyanya kembali.
“Hmmm..
bukti? Buktinya belum ada.” Jawabku sambil cengengesan. Sumpah ya aku malu
banget!!!.
“Lalu
kalau belum ada bukti,
kenapa menemui saya?” Tanya Andre.
“Ih..
GR banget kamu, saya kesini bukan untuk bertemu kamu.” Jawabku membela diriku.
‘jangan sampai Andre tau kalau gue kesini untuk bertemu dengannya’. Batinku.
“Terus
kenapa kamu kesini?” Tanya Andre.
“Saya
kesini mau kemenara Eiffel “ Jawabku
“Sendirian?
Temen-temen kamu kemana?” Dia lagi-lagi kembali bertanya.
“Iya
sendirian, emang kenapa?” Kini aku yang bertanya kepadanya.
“Yakin
kamu sendirian? Nanti kamu kesasar lagi, nyusahin saja nanti, sama seperti
hidup kamu yang tidak jelas dan kadang menyusahkan.” Kata-kata Andre sangatlah
memohak hati ini. ‘Ih ganteng-ganteng tapi mulutnya gak pernah dijaga’ Batinku geram. Andre pergi
meninggalkanku, dan menghampiri seorang lelaki tua yang tepat berada di
sebrangku. Mungkin lelaki itu komandannya, tampak juga mereka
berbincang-bincang. Aku terdiam membeku, tak tau mau apa lagi. Andre kembali
menghampiriku.
“Ayo
ikut saya!” Ajak Andre sambil menarik tanganku. Seketika jantung ini berdegub
kencang. ‘ya Tuhan’
“Mau
kemana? Jangan macam-macam kamu!” ancamku kepada Andre. Ke dua bola mata Andre
menatapku dengan lekat. Seketika dunia berhenti berputar.
“Saya
punya pikiran dan hati nurani. Jadi, tidak mungkin saya macam-macan sama kamu,
apa lagi kamu memakai hijab.” Ucap Andre. Yah aku dan ketiga sahabatku memakai
hijab, karena setiap muslimah di wajibkan untuk menutup auratnya. Aku tersenyum
mendengarnya, tanpaku sadari Andre membalas senyumanku. Yah senyuman yang aku
tunggu-tunggu sedari tadi. Senyuman yang membuat hati ini berdegup kencang.
Andre mengajakku kesebuah taman,
ternyata tugas Andre hari ini sudah selesai, maka dari itu dia dapat
menemaniku.
“Ngapain
kita kesini?” Tanyaku sambil melihat suasana sekitar, banyak sekali sepasang
kekasih yang tengah di mabuk cinta. Astagfirullah.
“Ih
tempat apaan ini? Banyak orang yang melakukan perzinahan disini.” Ucapkku.
“Mereka
yang melakukan perzinahan, bukan kamu kan?” Tanya Andre.
“Iya
tapi mereka merusak pemandanga saya.” Jawabku
“Jangan
dilihat.” Ucapnya dengan santai.
“Gimana
jangan dilihat, mereka jelas-jelas melakukan itu dihadapan saya.” Ucapku
sedikit emosi.
“Yasudah
baca saja ini.” Andre memberikan sebuah buku kepadaku.
“Buku
apa ini?” Tanyaku.
“Itu
buku sejarah islam di paris, tempat ini cocok untuk membaca, udaranya segar,
walaupun banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yan negative. Jangan samapai
kita terjerumus.” Jawabnya. Akupun membaca buku itu. Dibawah pohon rindang dengan angin yang sudah sedari
tadi menghembus, mengajak pohon-pohon disini untuk menari-nari.
“Kamu
tau tidak apa arti tujuan hidup?” Tiba-tiba Andre bertanya seperti itu
kepadaku.
“Tujuan
hidup adalah sesuatu yang akan kita capai.” Jawabku.
“Coba
kamu lihat kearah sana!” Tunjuk Andre ke sepasang kekasih yang
tengah asyik berciuman.
“Apa
hubungannya tujuan hidup sama mereka?’ Tanyaku.
“Jelas
ada. Tujuan mereka adalah untuk ciuman dialam terbuka, yang dapat dilihat oleh
banyak pasang mata.” Jawab Andre.
“Tapi
itu tujuan hidup yang sangat bodoh.” Ucapku.
“Yah
memang, coba kita Tarik kedalam islam, wanita dan lelaki yang belum menikah
tidak boleh bersentuhan sebelum mereka menjadi suami dan istri.” Ucap Andre.
“Yah
itu betul.” Ucapku.
“Sedangkan
tujuan menikah itu adalah untuk menciptakan generasi umat islam atau generasi
suatu bangsa. Bukan itu saja, tujuan menikah itu adalah ibadah.” Ucap Andre
sambil menatapku. Aku menganggukan kepalaku, tandanya aku mengerti apa maksud
Andre.
“Itu
adalah contoh tujuan hidup dari setiap insan manusia. Jadi sekarang kenapa kamu
harus bingung menentukan tujuan hidup kamu sendiri? tepatnya tujuan hidup kamu
di Paris ini. toh Kamu juga kok yang menjalaninya.” Ucap Andre. Yah pria
disampingku ini adalah pria yang mempunyai pemikirn dewasa. Aku tersenyum
kepadanya.
“Tujuan
hidup kamu apa di paris ini?” Tanyaku.
“Loh
kok malah menanyakan itu kepada saya? Kamu mau nyontek ya?” Ucap Andre terkekeh.
Hmmm ternyata dia bisa juga bercanda.
“Ihh..
enak aja, saya paling anti yang namanya menyontek, waktu saya SMA saja tidak
pernah menyontek.” Ucapku sambil tersenyum. Andre membalas senyumanku. Sempat
terjadi keheningan beberapa saat.
“Tujuan
hidup saya di Paris ini, adalah untuk menyelesaikan study saya sebagai seorang
polisi.” Akhirnya Andre menjawab pertanyaanku setelah terjadi keheningan
diantra kami.
“Jadi
kamu disini untuk belajar?” Tanyaku.
“Yah,
saya kesini untuk belajar. Alhamdulillah saya mendapatkan biasiswa untuk
mengikuti latihan militer disini.” Jawabnya.
“Tujuan
kamu untuk jadi polisi itu apa?” Tanyaku kembali.
“Untuk
memnjadi pelopor bagi masyarakat di Indonesia. dan membuat Jakarta menjadi
tertib, agar tidak ada kemacetan lagi. Hehhe” Jawabnya sedikit tertawa. Yah memang
saja Jakarta kota termacet didunia. Tujuan Andre bagus juga. Sangat cerdas.
“Kamu
tunggu sebentar ya disini.” Ucap Andre.
“Kamu
mau kemana?” Tanyaku.
“Saya
ada urusan sebentar, kamu tunggu disini, sebentar kok.” Jawabnya.
“Oke
deh siap pak polisi.” Ucapku tersenyum. Andrepun pergi meninggalkanku. Aku
melihat ke langit yang cerah, dari pada aku melihat orang yang melakukan
perzinahan, lebih baik aku melihat ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini.
Aku memejamkan mataku, rasanya sangat tenang, angin menertapa pipiku, dingin
rasanya.
“Excuse
me, it flowers for you.” Tiba-tiba seorang pria separuh baya menghampiriku dan
memberikan setangkai bunga mawar merah kepadaku. Aku bingung siapa yang
memberikan bunga ini?
“Who
gives this flower for me?” Tayaku setelah aku menerima bunga dari pria separu
baya itu.
“Someone.”
Jawabnya pendek, lalu pria itu pergi meninggalkanku.
‘Misterus
banget’ Batinku. Dan sekarang terdengar suara petikan gitar tepat disampingku,
aku menoleh kearah suara tersebut. Dan ternyata dia adalah seorang polisi yang
baru saja ku kenal. Yah dia adalah Andre Ferdiansyah.
““When
I see your face…
There’s
not a thing that I would change..
Cause
you’re amazing..
Just
the way you are..
And
when you smile..
The
whole world stops and stares for a while..
Cause
girl, you’re amazing..
Just
the wa you are..”
Yah
lagu itu adalah lagu Bruno mars. Andre menyanyikannya sangat merdu sekali. Tak ku
sangka, polisi yang besikap dingin sepertinya juga bisa romantis. Senyumanku
terus mekar melihatnya.
“Bunga
ini kamu kasih untuk saya?” Tanyaku sambil mengangkat bunga yang ada ditanganku
sedari tadi. Dia mengangguk artinya dialah yang memberikam bunga itu kepadaku.
“Dalam
rangka apa kamu memberikan bunga kepada saya?” Tanyaku kembali.
“Tidak
dalam rangka apa-apa.” Jawabnya.
“Terus?”
Tanyaku masih penasaran. Andre tersenyum kepadaku.
“Yah
anggap saja ini sebagai tanda perminta maaf saya, kerena kemarin saya sudah
berbicara kasar kepadamu. Seharusnya saya tidak melakukan itu semua, karena
saya tidak mau melukai perasaan wanita, itu sama saja saya menyakiti perasaan
ibu saya sendiri.” Jawabnya dengan panjang lebar.
Aku
menagambil napas dalam-dalam, lalu ku buang perlahan-lahan. Senyumanku tak
henti-hentinya untuk selalu mekar, mekar dan mekar.
“Kamu
mau maafin saya kan?” Kini Andre yang bertanya kepadaku.
“Iya,
saya sudah memaafkan mu, dan terimakasih atas bunga dan lagunya tadi. Suara
kamu bagus, saya suka.” Jawabku tersenyum sambil mencium bunga yang di berikan
Andre kepadaku. Wangi sekali Bunga ini.
“Iya
sama-sama Cesta.” Ucap Andre.
Malam harinya, aku sampai di depan
gedung apartement. Andre mengahntarkankku setelah kami menghabiskan seharian
waktu untuk berjalan-jalan. Andre adalah sosok pria yang bertanggung jawab dan
romantis pastinya, walaupun sikap sebenarnya sangatlah dingin.
“Makasih
ya Andre, udah mau nemenin saya seharian ini.” Ucapku.
“Iya
sama-sama Cesta. Saya seneng bisa bertemu dengan kamu, wanita yang sangat
unik.” Ucapnya. Aku tertawa kecil melihatnya.
“Iya
saya juga seneng bisa bertemu sama kamu, yaudah kamu hati-hati ya.” Ucapku.
“Iyaa,,
selamat malam.” Ucap Andre lalu pergi meninggalkanku.
Hari
yang sangat menyenangkan. Aku langsung mesuk kedalam apartement dengan hati
yang sangat gembira. Tak luput juga aku selalu tersenyum.
“Cesta,
lo dari mana aja?” Tanya Vera setelah dia membukakan pintu untukku. Aku masih
saja tersenyum, lalu aku masuk dan duduk di dekat Lidia dan Gladis.
“Yeee..
orang ditanya, malah cengengesan. Kesambet lo ya?” Tanya Vera sedikit sewot,
kerena aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Hah?
Cesta kesambet? Buruan panggilin dukun beranak!” Gladis mulai menunjukkan sikap
bloonya.
“Lah
kenapa jadi kedukun beranak? Ada-ada aja lo Dis.” Ucap Lidia geleng-geleng
kepala melihat Gladis. Aku tersenyum melihatnya.
“Ces,
jawab dong pertanyaan gue.” Ucap Vera sedikit momohon.
“Oke
gue jawab, gue abis jalan-jalan sama Andre.” Ucapku.
“Whattttt?
And the whaaaatttttt? lo jalan sama pak polisi ganteng itu Ces?” Tanya Gladis
histeris. Aku mengaggukkan kepalaku.
“Ihhhhh…
so swetttt banget.” Ucap Gladis.
“Cieeee…
ada yang jatuh cinta nih.” Ledek Vera.
“Ih
apaan sih, udah deh jangan ngegosip malem-malem, gak baik. Udah ah gue mau
tidur. Night all.” Ucapku, lalu beranjak meninggalkan ketiga sahabatku. Akupun
tertidur dengan lelapnya.
Ke esok harinya, Andre datang
menghampiriku ke apartement. Dia memencet bel yang ada di depan pintu
apartement.
“Selamat
pagi Cesta.” Ucap Andre. Tetapi seketika dia terdiam melihat bukan aku yang
membukakan pintu, melainkan Lidia.
“Sorry,
kirain saya tadi Cesta.” Ucapnya kembali dengan sedikit merasa malu.
“Oh
iya gapapa kok, mau cari Cesta ya?” Tanya Lidia.
“Iya”
Jawab Andre.
“Cestanya
masih tidur. Mau ada apa ya?” Tanya Lidia.
“Oh
masih tidur, gapapa kok. Yasudah tolong kasih bunga ini yan nanti kepada Cesta,
dan bilangin ke dia kalau
jadi cewe jangan bangun siang-siang.” Jawab Andre sambil menitipkan bunga
kepada Lidia.
“Iya
nanti saya sampaikan, kamu polisi yang ada di coffe itu kan?” Tanya Lidia.
“Iya
saya Andre.” Jawab Andre sambil menjalurkan tangannya kearah Lidia.
“Oh,
saya Lidia, sahabatnya Cesat.” Ucap Lidia menerima jaluran tangan Andre.
“Yasudah
kalau begitu, saya pamit
dulu.” Ucap Andre.
“Iya
hati-hati ya.” Ucap Lidia. Lalu Andrepun pergi.
‘Tangan
dan senyumannya membuat hati ini berdebar-debar’ Batin Lidia.
Tak
lama kemudian, aku terbangun dari tidur nyenyakku, dan aku melihat setangkai
bunga sudah tergeletak di meja dekat tempat tidurku. Aku segera mengambil bunga
itu, lalu membaca surat yang ada di temple di bunga tersebut.
“selamat pagi Cesta, semoga harimu menyenagkan
dipagi ini, dan semoga juga kamu bisa menemukan tujuan hidup kamu di paris ini.
Ingat tetaplah tersenyum.” Itulah isi surat tersebebut.
Yah aku tau itu adalah Andre yang mengirimkan Bunga dan surat ini. Aku beranjak
dari tempat tidurku, pergi berlalu keruang tengah, disana Lidia tengah menonton
TV sendirian. Aku menghampirinya.
“Morning
Lid.” Ucapku duduk disampingnya.
“Morning
Ces, udah bangun?” Tanyanya.
“Udah
dong..” Jawabku dengan penuh senyuman.
“Tadi
Andre datang, ngasih bunga ke lo.” Ucap Lidia.
“Iya
tadi gue udah lihat.” Ucapku kembali tersenyum.
“Lo
sama Andre pacaran ya?” Tanya Lidia.
“Kita
gak pacaran, baru juga kenal.” Jawabku.
“Bohong
ah, kalian kelihatan romantis banget.” Ucap Lidia tidak percaya.
“Iya
bener, gue gak bohong Lidia. Andre orangnya emang romantis.” Ucapku meyakikkan
Lidia.
“Eh,,
Vera dan Gladis kemana?” Tanyaku.
“Mereka
lagi jalan-jalan.” Jawab Lidia.
“Lo
gak jalan-jalan?” Tanyaku.
“Gak
ah, lagi males ngapa-ngapain.” Jawab Lidia.
“Hmmm,,,
gak boleh males-males dong, yuk temenin gue jalan-jalan. Tapi gue mandi dulu.”
Ucapku.
“Duhh
males Ces…” Tolak Lidia.
“Plissssss
dong Lidia!!” Aku sedikit memohon.
“Yaudah
iya iya, tapi buruan mandinya.” Ucap Lidia. Akupun langsung bergegas mandi.
Kini
aku dan Lidia sudah berada disalah satu tempat wisata yang di kota Paris.
Memang saja, aku mengajak Lidia walaupun awalnya dia tidak ingin pergi
menemaniku tetapi kini dia sudah ada di sampingku dengan senyum di bibirnya.
Yah aku sangat menyanyangi Lidia, Vera dan Gladis. Mereka sahabat terbaikku.
“Lid”
Suaraku terdengar memanggil nama Lidia. Yah kini aku dan Lidia berada di salah
satu coffe setalah asik menulisuri wisata-wisata yang ada di kota Paris.
“Hmm”
sahut Lidia. Dia tengah asik meneguk es coffenya.
“Menurut
lo, Andre itu gimana sih orangnya?” Tanyaku. Entah mengapa aku bisa bertanya
seperti itu kepada Lidia. Sungguh pertanyaan terkonyol yang pernah ku rasakan.
Kini mata Lidia melirik kearahku setelah dia sempat memperhatikan gadgetnya.
Dia menatapku, entah apa yang dipikirkannya aku tidak tahu.
“Andre
baik kok orangnya, buktinya dia mau bela-belain nemenin lo di coffe pada saat
gue Vera dan Gladis ninggalin lu pas kita baru aja nyampe di Paris.” Jawab
Lidia setelah beberapa detik menatapku, yang aku tak tahu apa arti tatapan itu.
Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Lidia benar juga, Andre memang baik tapi
sayangnya sikap yang terlalu kelewatan dingin itu yang membuatku jengkel
kepadanya. Huh entahlah mengapa pikiranku selalu dihantui oleh bayang-banyang
Andre. Seorang polisi yang dingin melibihi es yang ada di kutup.
“Kok
lo nanyain Andre?” Tanya Lidia yang menyadarkanku dari lamunanku, yah tampa aku
sadari aku telah melamunin Andre. Ahhrrrgggggg
Tuhan ada apa dengan diriku??. Batinku.
“Ahh??
I-iya gak kenapa-napa sih Lid” Jawabku terbata-bata sambil nyengir memamerkan
gigi putihku.
“Lo
suka sama Andre?” Tanya Lidia dengan penuh penyelidikan dimatanya.
What? Gue suka sama si polisi dingin itu? Enggak! Gak
mungkin. Ya TUHAN!. Jeritku dalam
hati.
“Ihhh,,
eng.. emm.. enggak Lid, gue gak suka sama Andre” Jawabku dengan wajah yang
sudah memerah seperti tomat rebus. Kini keheningan terjadi diantara aku dan
Lidia. Kami terhanyut oleh pikiran kami masing-masing.
Apa benar yang dikatakan Cesta? Tapi jika dia berbohong,
kenapa hatiku terasa sakit? Jujur saja aku cemburu melihat Andre dan Cesta. Ya
Tuhan apa mungkin aku yang menyukai Andre? Jika benar, apakah Andre juga
menyukaiku?. Batin Lidia.
Ke esok harinya Andre datang menemuiku
dan mengajakku jalan-jalan, katanya hari ini dia lagi libur berkerja. Yah
sayang loh kalau rezeki di tolak hehe.. akhirnya aku menerima tawaran Andre,
yah aku juga tengah bosan di apartement Lidia karena ketiga sahabatku kembali
pergi meninggalkanku sendirian. Huh menyebalkan bukan?
“Malam
Ces.” Sapa Andre setelah menemuiku yang sedari tadi telah menunggunya di depan
apartement. Aku tersenyum kearahnya sebagai tanda jawaban sapaannya.
“Maaf
ya kamu nunggu lama” Ucap Andre.
“Yah
lumayanlah.. yang sejelas aku belum kriting sih nungguinnya” Jawabku dengan
wajah sok imut. Atau wajah yang sok ku imut-imutkan.
“Gak
usah ngomel gitu dong” Ucapnya menggodaku dengan tangan yang sudah melingkar di
leherku.
“Isss,,
siapa yang ngomel?” Tanyaku dengan tetapan tak mengerti
“Hahaha..
Mungkin Cuma perasaan aku aja kali yah, yaudah yuk!” Ajaknya menarik tanganku.
Malam
ini memang indah, apalagi ditemani oleh seorang pria yang sangat tamapan yang
sudah ada di sampingku dengan seyuman manisnya. Ya Tuhan sungguh bahagianya
hatiku ini. Andre mengajakku ke gembok cinta. Yah entah apa maksud Andre
mengajakku ketempat ini. Yang jelas suasana hatiku saat ini tengah bahagia.
Kami telah sampai di tembok cinta, suasana malam hari ini sangatlah ramai oleh
sepasang kekasih yang ada ditemapat ini.
“Kok
kita ketempat ini?” Tanyaku setelah kami berada di salah satu dari sekian
banyak gembok yang berwarna-warni yang memanjakan mata ini. Andre mengambil dua
gembok yang tergantung indah sedari tadi.
“Memangnya
kenapa kalau saya ajak kamu ketempat ini? Ada yang salah?” Andre berbalik
bertanya kepadaku.
“Yah..
aneh saja, ini kan tempat untuk sepasang kekasih yang akan mengikat janji
mereka dengan gembok-gembok cinta ini.” Jawabku sambil mengarahkan satu gembok
kepada Andre. Lelaki didepan ku ini tersenyum, hal itu yang menambah tingkata
ketampanannya.
“Tempat
ini bukan hanya untuk sepasang kekasih yang akan mengikat cinta mereka, tetapi
untuk mereka yang mempunyai seseorang yang berharga dalam hidupnya.” Ucap Andre
tersenyum kembali. “Lagian tempat ini hanya mitos saja, yah buat seru-seruan.
Tidak salahkan?” Lanjutnya lagi. Kini akulah yang tersenyum kepadanya.
“Iya
tidak salah.” Tuturku. Kamipun kembali melanjutkan malam yang sangat indah ini.
Malam dimana aku merasa sangat nyaman berada disisi seorang lelaki seetelah
ayahku. Malam dimana aku merasa detak jantungkku yang berdebar sangat kencang
dan tidak bisa diajak kompromi. Malam dimana aku merasa berterimakasih kepada
Tuhan yang telah menciptakan pahatan yang sangat indah yang ada pada diri
seorang polisi muda bernama Andre Ferdiansyah.
Malam ini aku dan ketiga sahabatku
tengah menghabiskan waktu bersama di pantai yang tidak jauh dari menara Eiffel.
Tawa canda terlontar dari kami. Raut wajah bahagia masih setia menemani kami,
“Eh
tau gosip terbaru gak?” tanya Vera kepada kami,
“Gosip
apa ver?” Tanyaku. Yah Vera walaupun dia adalah wanita yang tomboy, tetapi jiwa
gosip ibu-ibu tidak lepas dari dirinya.
“Masa
Shawn Mendes nembak gue kemaren.” Kata Vera menahan tawanya.
“Oh
ya nembak pake apa? Lo mati gak Ver?”
Gladis bertanya dengan santainya.
“Et
si pea.. Maksud gue si Shawn Mendes mengungkapkan cinta sama gue semalem, kata
gini ‘Vera i love you so much’ gituuu..” Jawab Vera sambil tersenyum.
“Aelah
kebanyak berkhayal lo Ver, si Shawn Mendes aja kaga kenal sama lo.” Kata Lidia
ikut menenimpali perkataan Vera. Yah Vera adalah salah satu dari berjuta-juta
orang yang sangat mengilai penyanyi asal Canada itu.
“Bilang
aja lo cemboker kan sama gue Lid?” Ledek Vera kepada Lidia. Wanita yang bernama
Lidia itu langsung menoyol kepala Vera, “Enak aja lo... Gue gak level sama
brondong kaya si Shawn Mendes itu.” Kata Lidia sambil terkekeh.
“Eh
btw cemboker apa sih?” Tanya Gladis dengan polosnya.
“Au
ahh Dis, terserah lo aja.” Jawabku gemas,
“Ih
kan gue gak tau.” Tutur Gladis masih memasang tampang polos tak berdosanya,
“Lo
mau tau cemboker apa?” Tanya Vera. Gladis mengannggukkan kepalanya,
“Cemboker
itu kalo lo lagi sakit perut terus lo ngeden pasti keluar kuning-kuning dah.”
Kata Vera dengan jawaban yang melantur. Satu geplakan mendarat dikepala Vera.
“Njir.. si Lidia doyan amat geplak kepala gue, dipitrahin nih pala gue ama emak
bapak gue.” Keluh Vera. Aku dan Lidia sudah tidak bisa menahan tawa lagi.
“Abis
lo jawabnya ngelantur Ver, itu boker bukan cemboker.” Ucap ku sambil menahan
tawaku.
“Iya
deh dedek salah lagi.. Tuhan dedek sedih.” Vera memasang tampang sedihnya.
“Najisun
lo Ver, sumpah jijik gue.” Ucap Lidia sambil melempar potongan kentang goreng
kearah Vera.
“Anjir.. kampret lo Lid.” Balas Vera. Tawa
kamipun pecah seketika.
“Eh
btw.. Kayaknaya Lidia cocok deh sama Mario Maurer.” Kini Gladis lah yang angkat
suara. Kami bertiga bingung dengan apa yang diucapkan Gladis,
“Mario
Maurer siapa?” Tanyaku.
“Tau
nih Gladis, gue taunya mah Mario Teguh. Kalo itu baru cocok banget sama Lidia.”
Cerocos Vera. “Anju lo..” Teriak Lidia kesal.
“Ihh
kalian ketinggalan berita banget sih.. Mario Maurer itu artis terganteng dari
Thailand. Nih kalo gak percaya gue kasih fotonya.” Ucap Gladis sambil
menyodorkan ponselnya kepada kami bertiga.
“Astogee..
Ganteng binggowww, buat gue aja ini Dis.” Teriak Vera histeris setelah meliahat
lelaki tampan dari ponsel milik Gladis.
“Ih
lo kan udah sama Shawn Mendes, jangan maruk dong Ver.” Sanggah Lidia
“Btw
tumben Dis, lo gak mau sama cowok ganteng ini. Biasanya kan lo paling
tergila-gila sama cogan.” Ucapku.
“Iya
dia udah tuwir sihh,, coba masih mudah gue pacarin tuh.” Sahut Gladis.
“Yee
bocah. kasih cowok ke gue yang udah tuwir. Lo kira gue mau sama om-om?” Kata
Lidia kesal. Kamipun kembali tertawa.
“Eh,
kalo cowok buat Cesta siapa yah yang cocok?” Tanya Gladis.
“Yah
siapa lagi, kalau bukan si bapak polisi itu, siapa dah namanya?” Tanya Vera.
“Andre.”
Jawabku singkat. “Cieeee... Cesta udah jadian yah sama pak polisi ganteng itu?”
Tanya Gladis menggodaku.
“Ihh
apaan sih.. Enggak!! Gue gak jadian sama dia.” Bantahku.
“Gak
jadian tapi saling suka. Hahah hati-hati kena friendzone lo berdua.” Kini
Veralah yang meledek ku. Wajahku sudah merah seperti tomat. Entah mengapa
setiap nama Andre disebut hatiku terasa berdebar-debar tak karuan. Seketika
Lidia kehilangan moodnya. “Gue ketoilet dulu yah.” Ucap Lidia pergi melangkah
jauh dari hadapan kami. Sebelum itu aku sempat melihat mata Lidia berkaca-kaca.
“Lidia
kenapa?” Tanyaku khawatir.
“Oh
shiitttt.. Gue keceplosan.” Ucap Vera menepuk keningnnya.
“Maksudnya?”
Tanyaku tak mengerti. Tampak Vera mengambil napas dalam-dalam.
“Sebenarnya
gue mau ngasih tau ini sama lo Ces, tapi gue takut.” Jawab Vera ragu.
“Takut
kenapa? Kenapa sebenarnya?” Tanyaku bertubi-tubi.
“Iya..
sebenarnyaa Lidia suka sama Andre.” Jawab Vera dengan raut wajah yang tidak
dapat diartikan. Seketika aku langsung mengejar Lidia. Yah sejujurnya hatiku
sakit menerima kenyataan ini. Bagaimana tidak? Aku dan sahabatku suka dengan
pria yang sama. Aku tidak tahu harus buat apa lagi, yang ku pikirkan saat ini
adalah Lidia. Yah kemana dia pergi? Aku sangat mengkhawatirkannya. Mataku
melebarkan pandangan kesekitar tetapi tetap saja aku tidak menemukannya. Oh
Tuhan, aku harus bangaimana? Kaki ku terus melangkah dengan sedikit tergesah,
hatiku tak karuan, pikiranku sudah tak karuan lagi. Yah banyak yang berkecambuk
di dalam pikiranku ini. Sampai akhirnya aku menemukan Lidia tengah terduduk
termenung didekat sebuah pantai. Aku yakin saat ini dia tengah menangis, karena
nampak punggungnya bergetar hebat. Kakiku melangkah kearahnya dan duduk
disampingnya. Hening. Yah yang terjadi hanyalah keheningan diantara kami. Canda
dan tawa yang sempat menghiasi waktu kami tadi seketika luntur begitu saja,
sangat canggung. Yah itulah yang ku rasakan saat ini, untuk detik ini.
“Lidia.”
Lirihku menyentuh pundaknya. Yah akulah yang memecahkan keheningan diantara
kami berdua. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan secepatnya. Lidia
bungkam. Dia tidak merespon sama sekali, yang dilakukaknnya hanyalah diam
seribu kata. Aku benci seituasi seperti ini. Sangat benci!!
“Gue
sama Andre gak ada hubungan apa-apa.” Kataku. Aku harap Lidia kini meresponku.
Lidia melempar pandangannya kerahku, ditatapnya aku dengan tajam menggunakan
mata elangnya.
“Gue
gak perduli.” Serunya acuh. Tetapi, aku yakin dia sangat perduli.
“Gue
akan buat Andre jatuh cinta sama lo Lid.” Kata itu terlontar begitu saja dari
mulutku. Sejujurnya kata-kata ini dapat melukai hatiku sendiri. Bagaimana
tidak? Aku akan merelakan pria yang aku cintai, pria yang menjadi cinta
pertamaku untuk sahabatku sendiri. Tetapi, inilah yang terbaik. Andre maafkan
aku.
“Lo
gak cinta sama Andre?” Tanya Lidia.
“Gak.
Gu..gue gak cinta sama Andre.” Jawabku dengan sekuat tenaga menahan air mataku
agar tidak jatuh menetes. Yah aku pembohong. Kalian boleh nilai aku dengan
munafik. Tetapi, ini aku lakukan untuk sahabatku, Lidia. Lidia seketika
memelukku dengan begitu erat. “Gue cinta sama Andre.” Lirihnya dalam
tangisannya. Ya Tuhan, apakah jatuh cinta itu menyakitkan seperti ini? Jika aku
tahu kalau jatuh cinta itu menyakitkan, aku tidak akan pernah sudi untuk jatuh
cinta. Tetapi ini sudah takdirku, hamba yakin Engkau telah menyiapkan Hikmah
dibalik semua ini.
Andre mengirim pesan singkat kepadaku
yang berisi mengajakku kencan malam hari ini. Dari dalam hatiku yang paling
kecil aku sangat bahagia. Tetapi, aku tidak akan lupa kalau aku akan membantu
Lidia agar mendapatkan hatinya Andre. Segera aku menemui Lidia yang tengah
bercengkrama dengan Vera dan Gladis.
“Lid,
Andre malam ini ngajak gue kencan. Lo nanti malam harus temui dia yah.” Ucapku
kepada Lidia. Vera tak acuh menanggapi perkataanku itu. Yah Vera adalah orang
yang menentang dengan rencanaku ini. Dia pernah berkata:
“Lo yakin bakal comblangin Lidia sama Andre, Ces?”
Tanyanya. Aku menganggukan kepalaku mantab.
“Tapikan lo cinta sama Andre, Ces.” Tuturnya. Yah Veralah
satu-satunya orang yang mengetahui perasaaan ku kepada Andre.
“Gue mau Lidia bahagia, Ver.” Kataku dengan mantab. Aku
harap Vera bisa memahami apa maksudku, karena aku sangat menyayangi Lidia dan
kedua sahabatku yang lain.
“Kan
pak polisi ganteng ngajakin lo ces, bukan ngajakin Lidia. Kenapa Lidia yang datang?”
Tanya Gladis bingung. Yah Gladis, dia tidak tahu soal ini. Ingatkan aku untuk
memberi tahunya nanti.
“Diem
aje lo nyuk.” Ciletuk Vera kepada Gladis. Gladis hanya bisa mencurutkan
mulutnya seperti bebek yang minta dicium. Yah begitulah kira-kira gambaran
imajinasiku terhadap Gladis.
“Tapi
ces-“ Ucapan Lidia segera aku potong.
“Udah..
sekarang gak ada tapi-tapian! Nanti malam lo temuin Andre dan buat Andre nyaman
dan jatuh cinta sama lo.” Sanggahku cepat.
“Kalau
gitu, Lidia harus dandan cantik tuh, biar pak polisi ganteng kelepek-kelepek.”
Celetuk Gladis sambil mengunyah kentang gorengnya. Yah kami sekarang tengah
bersantai diruang tengah apartement.
“Ikan
kali ah, kelepek-kelepek.” Timpal Vera sambil melempar potongan kentang ke arah
Gladis. Gladis hanya bisa terkekeh.
“Bener
juga kata Gladis, pokoknya malam ini lo harus tampil cantik, Lid.” Ucapku
bersemangat.
“Kalau
urusan dandanan serahin aja sama gue.” Ucap Gladis sambil memukul dadanya,
bangga. Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Gladis.
Malam harinya, Lidia telah terlihat
begitu cantik dengan balutan dress panjang berwarna merah marun, pasmina yang
telah diberi model, dan high heels warna toska yang tampak cantik digunakannya.
Semua ini hasil kreasi Gladis.
“Guys,
taxinya udah dapet tuh.” Seru Vera. Yah Andre memang tidak menjemput, karena
aku yang menyuruhnya untuk menunggu di coffe yang kami sepakati tadi.
“Ces..
nanti gue harus gimana?” Tanya Lidia grogi. Aku tersenyum kepadanya.
“Yakin
sama gue, kalau lo bisa buat Andre jatuh cinta sama lo. Niatin dihati lo.”
Jawabku mantab.
“Tul,
jangan lupa baca bismillah dulu, Lid.” Timpal Gladis. Lidia hanya menggukkan
kepalanya. Dan dia langsung pergi menggunakan taxi yang telah menunggunya
sedari tadi. Aku tersenyum. Yah senyuman yang sangat memilukan sekali. Vera
menepuk pundak ku. Aku tahu maksudnya, dia memberikanku semangat. Yah lagi-lagi
aku berkata dalam hati inilah yang
terbaik.
Sementara di tempat lain, Andre telah
duduk disebuah coffe yang terbilang sangat romantis. Dia malam hari ini
terlihat sangat tampan dengan kemeja yang dibalut dengan jas biru dongkernya.
Rambutnya ditata rapih, menambah tingkat ketempanannya. Malam ini Andre akan
mengutarakan isi hatinya kepada wanita yang bernama Cesta Sarasati. Wanita
beberapa minggu ini ditemuinya di menara Eiffel yang tengah kebingungan mencari
ketiga sahabatnya, wanita yang bingung apa tujuannya ke kota Paris ini, wanita
yang asik di ajak ngobrol, wanita yang manis, dan tentunya wanita yang bisa
merebut harinya. Andre baru merasakan indahnya jatuh cinta, rasanya ia sangat
bahagia bila membayangkan wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
“Andre.”
Terdengar suara wanita memanggil namanya. Dia langsung mendongakkan
pandangannya kearah suara tersebut. Itu
pasti Cesta. Batinnya. Tetapi apa yang diharapkan tidak terjadi. Suara itu
bukanlah suara Cesta melainkan sahabat Cesta.
“Hai..
boleh aku duduk disini?” Tanya Lidia. Andre hanya menggukan kepalanya. Banyak
pertanyaan-pertanyaan berputar dikepalanya. Mengapa
Cesta tidak datang? Dan mengapa sahabatnya yang datang? Apa yang tengah
terjadi?
“Cesta
gak bisa datang karena ada urusan mendadak. Dan dia nyuruh aku buat menemui
kamu disini.” Pertanyaan yang ada di kepala Andre terjawab oleh Lidia. Andre
samapai mengira bahwa Lidia punya kekuatan untuk membaca pikiran seseorang.
“Dan
ini ada titipan dari Cesta.” Lanjutnya lagi dengan menyodorkan sepucuk surat
dengan amplop berwana biru laut itu. Andre menerima surat itu dan segera
membacanya.
Dear
Andre Ferdiansya, polisi yang kaku dan romantis yang pernah ku kenal.
Haii
Andre. Terimakasih telah mengajari aku apa arti hidup ini. Terimakasih kamu
telah membuat hidupku berwana dengan segala yang telah kamu berikan kepadaku.
Aku sangat sangat berterimakasih. Aku berharap kamu bisa memahami apa maksudku
ini, aku tahu kamu menyukaiku. Bakan bukan Cuma menyukai saja, tetapi kamu juga
mencintaiku. Aku hanya ingin berkata maaf. Maaf karena aku tidak bisa membalas
cintamu. Aku tahu, aku adalah orang yang paling jahat didunia ini. Kamu boleh
kok membenciku, aku terima. Tetapi aku harap kamu bisa melupakanku yang tidak
pantas kamu cintai ini, cobalah buka hati kamu untuk wanita lain yang ada di
dunia ini. Aku nyaman berada di dekatmu sebagai teman tidak lebih. Terimkasih
Andre telah mencintaiku, dan maaf jika aku mematahkan hatimu.
Salam,
Cesta Sarasati.
Andre
terpaku membaca surat tersebut. Hatinya sangat hancur berkeping-keping. Mengapa
Tuhan menciptakan rasa cinta jika Tuhan juga memciptakan rasa patah hati? Ini
sangat tak adil!! Mengapa secepat ini? Rasanya baru sebentar dia menemukan
kebahagiaanya, tetapi sekarang kebahagiaan itu pergi jauh meninggalkannya.
“Cesta
gak mencintaimu, Andre.” Tutur Lidia. Andre menatap lurus kerah Lidia. Andre
memilih untuk bungkam.
“Aku
tau perasaan kamu gimana, tetapi coba kamu buka hati kamu untuk wanita yang
benar-benar mencintaimu.” Ucap Lidia mengenggam erat tangan Andre.
Apa katanya? Tidak mudah untuk semua ini. Batin Andre.
“Aku
mencintaimu, Andre.” Bisik Lidia tepat ditelinga Andre. Oh Tuhan dia ingin
kata-kata ini terucap dari mulut Cesta bukan Lidia.
Hari ini adalah hari terakhir aku dan
ketiga sahabatku di kota Paris ini. Banyak sekali pelajaran yang ku dapatkan
disini. Aku bisa menemukan cinta pertamaku disini dan aku juga kehilangan cinta
pertamaku itu di tempat ini juga. Luar biasa sekali bukan? Yah setelah malam
dimana Andre memintaku menemuinya di coffe dan aku malah tidak datang,
melainkan yang datang adalah Lidia sahabatku yang sangat mencintai Andre
Ferdiansya, seorang polisi yang kaku dan juga romantis. Andre tidak pernah
mengabariku lagi. Yah aku tahu dia sangat marah dan kecewa kepadaku, aku pantas
menerima semua ini. Aku tahu itu. Bahkan sekarang Andre telah membuka hatinya
untuk Lidia. Yah mereka akhir-akhir ini sangat dekat, mungkin saja mereka sudah
jadian. Ah sudahlah itu bukanlah urusanku. Yang terpenting saat ini aku bisa
melihat senyuman yang mengembang di wajah sahabat-sahabatku terutama Lidia. Aku
sangat bahagia sekali mempunyai sahabat seperti mereka. Memang terkadang benar
kata pepetah, kalau cintai itu tidak harus memiliki. Aku mencintai Andre,
sangat mencintainya. Tetapi, aku tidak bisa memilikinya. Memiliki seorang Andre
Ferdiansyah ibarat mendapatkan nilai seratus di ulangan matematika ku, susah
untukku dapatkan.
“Cesta.”
Vera memanggil namaku. Aku menoleh kearahnya.
“Lo
orang yang terbijak sedunia menurut versi gue.” Ucapnya dengan tersenyum. Yah
aku juga ikut tersenyum.
“Gue
harap Lidia akan bahagia bersama Andre.” Tuturku. Vera hanya mengaggukkan
kepalanya yang artinya dia setuju denganku. Kini aku dan Vera berada di depan
menara Eiffel.
“Cesta,
Vera.. Gue dapet alat make up terbaru dari Paris.. Duh ini buat oleh-oleh gue
buat bunda.” Teriak Gladis kegirangan. Gladis tadi memang pergi bersama Lidia
untuk membeli oleh-oleh untuk kami bawa pulang ke Indonesia, negara yang kami
cintai. Aku dan Vera hanya bisa terkekeh. Inilah hidup, inilah cinta, inilah
takdir. Aku percaya dengan semua itu. Tuhan akan memberikan kebahagiaan untuk
umatnya. Tuhan aku bahagia, sangat bahagia telah mengenalnya dan telah
mempunyai sahabat seperti ketiga sahabatku ini. Terima kasih Tuhan.
Aku tahu Cesta adalah wanita yang sangat bijak dan
pintar. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tetapi takdir tidak
memepersatukan kami. Aku bahagia bisa mengenal Cesta, Aku bahagia sempat dekat
dengan dirinya, aku bahagia sempat tertawa bersamanya, aku bahagia. Terimakasih
Tuhan telah menciptakan seorang gadis bernama Cesta Sarasati. Walau
bagaimanapun dia tetap cinta pertamaku. -Andre
Ferdiansyah.
Tamat ......